Klaster ketiga adalah klaster ancaman hidrometeorologi basah, yaitu banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung, dan abrasi pantai. Klaster yang terakhir adalah ancaman bencana nonalam, seperti pandemi Covid-19.
Terkait pembahasan bencana non-alam, Koordinator Komunikasi Kesehatan, Direktorat Infokom PMK Maroli J Indarto menegaskan pentingnya memitigasi bencana nonalam seperti pandemi Covid-19, karena dampaknya sangat luas dan panjang.
“Forum GPDRR ini harus bisa dimanfaatkan untuk membuat kolaborasi global untuk memitigasi potensi bencana non pandemi. Kita harus benar-benar belajar dari pandemi Covid-19. Dampak dari bencana non alam ternyata dapat bedampak sangat luas dan berlangsung cukup lama," ujar Maroli.
Indonesia harus mengambil peran terdepan dalam hal ini. Mengingat kondisi demografis dan geografis yang dimiliki Indonesia, kolaborasi yang bersifat global akan sangat membantu Indonesia dalam memitigasi bencana non-pandemi.
“Kita harus mengambil inisisatif ini. Karena jika kolaborasi global terbentuk dan berjalan dengan baik, manfaatnya akan dirasakan oleh Indonesia dalam menghadapi bencana non pandemi di kemudian hari," ucapnya.
Sejak 2009 Pemerintah Indonesia selalu berperan aktif dalam konferensi kebencanaan yang diselenggarakan United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR)/ UNDRR. Berbagai pertemuan internasional telah dihadiri seperti pada tahun 2012, BNPB bersama UNISDR menjadi Tuan Rumah 5th Asian Ministerial Meeting on Disaster Risk Reduction (AMCDRR) di Yogyakarta.