JAKARTA - Perhelatan akbar mudik Lebaran 2022 belum sepenuhnya usai. Seratus ribu lebih personel gabungan yang diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2022 masih berjuang di lapangan untuk memastikan pemudik balik ke rumah dengan aman, lancar dan sehat. Namun, pemerintah sudah harus siap lagi menjalankan skenario lain pelonggaran mudik tahun ini lantaran adanya potensi lonjakan kasus Covid-19 dan munculnya fenomena hepatitis akut pada anak dan remaja.
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan meminta semua jajaran untuk mencermati dan menindaklanjuti setiap penambahan kasus hingga prosedur penanganan sudah kembali dimatangkan. Fasilitas-fasilitas kesehatan dengan tenaga, obat, serta peralatan juga telah disiagakan, termasuk komunikasi public yang masif.
“Pemerintah siap dengan semua skenario. Meskipun, kita cukup percaya bahwa kebijakan pelonggaran mudik tahun ini sudah tepat, risikonya cukup terukur dan termitigasi dengan baik,” ujarnya.
Baca juga: Penanganan Covid-19 Membaik, Kepala BIN Bicara soal Pemulihan Ekonomi
Pemerintah siap dengan kemungkinan terjadinya peningkatan kasus Covid-19 mengingat tahun ini mudik memang berlangsung sangat meriah. Survei Kemenhub yang memprediksi pemudik tahun ini akan mencapai 85,5 juta orang sepertinya tak jauh meleset. Sejumlah data menunjukkan, arus mudik tahun ini memang memecahkan rekor lalu lintas tertinggi sepanjang sejarah.
Baca juga: Vaksinasi Covid-19 Mobile di Kalteng Diprioritaskan untuk Lansia
Sebagai contoh, untuk Jabotabek saja, menurut data Jasa Marga, jumlah mobil keluar sejak H-10 hingga H-1 Lebaran (22 April-1 Mei) mencapai 1,7 juta alias 10% lebih tinggi dibanding mudik 2019. Data ASDP Indonesia Ferry mencatat, total penumpang yang menyeberang melalui pelabuhan Merak mencapai 3,2 juta orang (naik 65% dari 2021), dengan jumlah kendaraan roda dua mencapai 144.000 unit (naik 47% dari 2021), serta kendaraan roda empat mencapai 238.000 unit (naik 59% dari 2021).