Di sisi lain, pasca Perang Bubat dwitunggal Hayam Wuruk - Gajah Mada kandas. Hubungan kedua petinggi Majapahit yang disegani di seantero Nusantara ini tak lagi berbekas. Luka Hayam Wuruk seolah tak bisa disembuhkan, karena begitu kecewa dan patah hatinya gagal menikah dengan perempuan cantik putri Raja Sunda Maharaja Linggabuana Wisesa.
Hayam Wuruk pun memberi Gajah Mada tanah di Madakaripura Probolinggo, yang dapat diartikan sebagai anjuran halus agar Gajah Mada mulai mempertimbangkan pensiun. Tanah yang terletak jauh dari Kotaraja Majapahit ini membuat Gajah Mada mulai mengundurkan diri dari hingar perpolitikan Majapahit.
Bisa disimpulkan bahwa pasca Perang Bubat, Hayam Wuruk mulai mengurangi peran dan fungsi Gajah Mada. Ia tak lagi mempercayai Gajah Mada dan tidak terlalu bergantung padanya. Sejak Perang Bubat itu, Hayam Wuruk lebih terlibat dalam pemerintahan dan berusaha mengambil keputusan sendiri.
Hayam Wuruk menyusun sistem pemerintahan baru yang membuat penguasa dapat aktif secara langsung, dan meminta pertimbangan dari keluarga dan pejabat senior, sebelum mengambil sebuah kebijakan. Ia juga mulai melainkan perjalanan ke berbagai daerah, untuk mengetahui kondisi masyarakatnya.
Rakyat pun menjadi terkesan dengan sistem pemerintahan Hayam Wuruk yang dianggap lebih terbuka. Walaupun saat itu selang beberapa waktu, Gajah Mada masih menjabat sebagai Mahapatih Amangkubhumi, namun kekuasaannya tidak sebesar dulu.
Baca juga: Dyah Pitaloka, Putri Raja Sunda yang Membuat Hayam Wuruk Jatuh Cinta
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.