Mereka adalah para budak yang diperjualbelikan oleh para Mambri Papua kepada Sultan Tidore dan oleh sultan kepada para Kolonis Portugis dan kemudian juga Belanda pengusaha perkebunan kelapa, cengkeh dan pala atau dipekerjakan sebagai pendayung perahu-perahu kembara.
Kedua, Jauh sebelum integrasi politik 1 Mei penggunaan Bahasa Melayu (sekarang bahasa Indonesia) telah dipergunakan secara luas oleh orang Papua sebagai bahasa komunikasi antar masyarakat terutama orang-orang Papua dibagian Barat – Tenggara bahkan Teluk Cenderawasih (Saireri).
"Dalam catatan para pelancong, Pulau Mansinam adalah tempat persinggahan para pelayar antara kepulauan Biak Numfor dan Tidore, semacam tempat transit para pelaut. Interaksi sosial budaya ini dapat ditemukan dalam narasi-narasi kisah legendaris dan patriotik suku-suku asli di pesisir dan kepulauan Papua bahkan barang-barang seperti guci dan piring-piring antik buatan Cina banyak bersebaran di Tanah Papua dan dipergunakan sebagai alat tukar dan mahar perkawinan,"jelasnya.
Ketiga, dalam catatan sejarah, Papua pernah menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Spanyol, ketika Inigo Ortiz de Retes 1545 menancapkan bendera Spanyol di Muara Mamberamo dan memberikan nama Tanah Papua sebagai Nova Guinea. Pada tahun 1793, pasukan Inggris di bawah pimpinan Kapten John Hayes membangun pemukiman di Manokwari, sebuah benteng yang diberi nama Fort Coronation.
Selanjutnya, Belanda menempatkan sepasukan tentara di Teluk Triton Barat Daya Tanah Papua dan memberi nama pemukiman pasukan Belanda sebagai Fort Du Bus. Benteng Fort Du Bus Ini diresmikan pada 24 Agustus 1828, dimana benteng ini adalah benteng sebagai basis pertahanan pertama yang dibuat oleh pemerintah pada zaman itu.
Ke-empat, orang Papua yang saat ini disebut sebagai Indonesia tidak memiliki hubungan emosional apalagi hubungan sosial ekonomi dan politik dengan saudara-saudaranya di sebelah Timur Tanah Papua. Kemerdekaan bagian Timur Tanah Papua menjadi negara Papua New Guinea tidak sedikitpun menarik minat orang Papua Indonesia untuk bergabung atau menggabungkan kedua wilayah ini menjadi satu negera kendati hanya bersebelahan daratan.
Dari sekelumit catatan sejarah sebagaimana tertulis di atas, dapat disimpulkan bahwa arah pergerakan aktivitas sosial budaya keluar dan ke dalam wilayah Papua datang dari kawasan Barat Tanah Papua, yaitu dari Indonesia.
"Terlebih pada saat peradaban baru dimulai dengan berdirinya sekolah peradaban dan sekolah – sekolah pekabaran Injil yang sejak 1855 sampai 1963, selama kurun waktu 108 tahun sangat dipengaruhi oleh kehadiran para pendidik (guru-guru) dari Sulawesi Utara, terutama dari kepulauan Sangir Talaud dan pulau-pulau sekitarnya, kemudian juga guru-guru asal kepulauan Maluku yang bekerja dan mengabdi di berbagai pelosok Tanah Papua bagian Utara. Di belahan Selatan sampai Barat Daya Tanah Papua menjadi medan pelayanan para guru dan diaken asal Maluku Tenggara (Kepulauan Kei dan Tanimbar), serta guru-guru asal Flores dan Timor yang semuanya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar,"jelasnya.
"Tuhan mempersiapkan Tanah Papua menjadi bagian dari Republik Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka, ini yang disebut sebagai fakta Motivasi Tuhan. Proses integrasi yang terjadi pada tanggal 1 Mei 1963 sebagai realisasi politik dekolonisasi seakan mendorong posisi Papua dalam peta geografi ke dalam wilayah negara Republik Indonesia,"sambungnya lagi.