Sementara di kalangan orang asli Papua saat ini beredar kesadaran bahwa Tanah Papua dicaplok oleh NKRI sebagai tindakan invasif dan kolonialisme baru.
Namun apabila menghayati dan memaknai proses sejarah peradaban Tanah Papua sejak abad pertengahan hingga 1855 dimulainya peradaban baru melalui pekabaran Injil oleh misionaris asal German Carl Wilhem Ottouw dan Johann Gottlob Geisller, serta perkembangan 108 tahun sesudahnya, dapat disebutkan bahwa orang asli Papua dan wilayah Tanah Papua telah terintegrasi secara emosional, secara sosial budaya, sosial ekonomi bahkan sosial politik atau secara historis dengan saudara-saudaranya di Nusantara, jauh sebelum Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, jauh sebelum Indonesia disebut sebagai Negera Republik Indonesia.
Oleh karena itu, tanggal 1 Mei bagi orang Papua dapat disebut sebagai deklarasi Motivasi Tuhan atas Tanah Papua.
Seluruh upaya pembangunan pasca integrasi hingga pemekaran daerah otonom saat ini pun perlu diterjemahkan dari sudut pandang Terang Injil Kristus. Tuhan tentu tidak menginginkan bangsa ini tinggal dalam keterbelakangan.
Namun di sisi lain juga ada beberapa pimpinan gereja yang memiliki interpretasi politik berbeda serta menolak agenda pembangunan atas dasar kekhawatiran akan tersisihnya Orang Asli Papua.
"Padahal hukum kasih dan perintah penginjilan dari Yesus bersifat universal tanpa membedakan suku, bangsa, ras, warna kulit, jenis rambut, maupun bahasa. Yesus tidak membeda-bedakan orang, dan bahkan mengajarkan untuk mendoakan serta mengasihi musuh,"tegasnya.
"Maka melaui tulisan ini, saya mengajak kaum moralis di Tanah Papua, marilah kita membangun Tanah Papua menurut kehendak Ilahi, Tuhan Yang Maha Kuasa yang tetap memimpin sejarah Tanah Papua sampai nanti,"tutupnya.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.