Share

AS Peringatkan Risiko Gunakan Pekerja IT Asal Korut, Diduga Curi Uang untuk Program Senjata

Susi Susanti, Okezone · Selasa 17 Mei 2022 14:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 17 18 2595447 as-peringatkan-risiko-gunakan-pekerja-it-asal-korut-diduga-curi-uang-untuk-program-senjata-lhVMAEMhKz.jpg Ilustrasi teknologi informasi (Foto: CryptoShrypto)

NEW YORK Amerika Serikat (AS) telah memperingatkan bahwa pekerja Teknologi Informasi (IT) dari Korea Utara (Korut) berusaha mendapatkan pekerjaan jarak jauh dengan menyembunyikan identitas asli mereka dengan tujuan mencuri uang untuk Pyongyang.

Menurut tiga lembaga pemerintah AS, banyak dari mereka berpura-pura dari bagian lain Asia. Mereka diduga membantu mendanai program senjata Korea Utara, yang melanggar sanksi internasional.

Diketahui, negara ini telah melakukan beberapa uji coba rudal dalam beberapa bulan terakhir. Pada Maret lalu, Korea Utara menguji coba rudal balistik antarbenua yang dilarang untuk pertama kalinya sejak 2017.

"DPRK [Korea Utara] mengirimkan ribuan pekerja TI yang sangat terampil di seluruh dunia untuk menghasilkan pendapatan yang berkontribusi pada senjata pemusnah massal dan program rudal balistiknya, yang melanggar sanksi AS dan PBB," terang Departemen Luar Negeri AS, Departemen Keuangan AS dan Biro Investigasi Federal (FBI) mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama pada Senin (16/5/2022).

 Baca juga: Korut Uji Coba Senjata Taktis Baru, Tingkatkan Kemampuan Nuklir

Pernyataan itu mengatakan para pekerja tersebut berada di Korea Utara dan negara-negara lain, terutama China dan Rusia. Sejumlah kecil dikatakan berbasis di Afrika dan Asia Tenggara.

Baca juga:  Korut Beri Peringatan, Akan Gunakan Nuklir Jika Diserang Korsel

"Pekerja II ini memanfaatkan tuntutan yang ada untuk keterampilan TI tertentu, seperti pengembangan perangkat lunak dan aplikasi seluler, untuk mendapatkan kontrak kerja lepas dari klien di seluruh dunia, termasuk di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur," katanya.

"Meskipun pekerja TI DPRK biasanya terlibat dalam pekerjaan TI yang berbeda dari aktivitas siber berbahaya, mereka telah menggunakan akses istimewa yang diperoleh sebagai kontraktor untuk memungkinkan intrusi siber berbahaya DPRK," tambah pernyataan itu.

Pernyataan itu juga mengatakan perusahaan yang mempekerjakan pekerja Korea Utara dapat menghadapi hukuman hukum karena melanggar sanksi.

Bulan lalu, AS mengaitkan peretas yang didukung Korea Utara dengan pencurian cryptocurrency besar-besaran senilai USD615 juta (Rp9 triliun) dari pemain game online populer Axie Infinity.

Lalu pada April lalu, seorang mantan peneliti AS di sebuah kelompok cryptocurrency dijatuhi hukuman lebih dari lima tahun penjara karena berkonspirasi untuk membantu Korea Utara menghindari sanksi AS.

Virgil Griffith sebelumnya bekerja untuk Ethereum Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada teknologi di balik cryptocurrency ether.

Dia mengaku bersalah berkonspirasi untuk melanggar Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional AS dengan melakukan perjalanan ke ibu kota Korea Utara, Pyongyang, untuk memberikan presentasi tentang teknologi blockchain.

Yayasan Ethereum mengatakan pada saat penangkapan Griffith bahwa mereka tidak menyetujui atau mendukung perjalanannya ke Korea Utara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini