Presiden BJ Habibie (1998-1999)
Pancasila adalah darah daging dalam jiwa bangsa Indonesia.
"Pancasila is a must dan itu bukan hasil dari suatu generasi tapi bung Karno sendiri katakan dia gali dari tubuh bangsa Indonesia. Di situ (Pancasila) sudah ada dalam tubuh kita sendiri, pelihara baik dan sesuaikan dengan keadaan teknologi, kendala baru dan adanya informasi bisa masuk kesini," kata Habibie. (Dialog Kebangsaan: Mengelola Keberagaman Meneguhkan Keindonesiaan yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 15/8/2017).
Baca juga: Daftar Menteri Pendidikan di Era Presiden Soekarno, Ki Hadjar Dewantara yang Pertama Kali Menjabat!
Presiden Megawati Soekarno Putri (2001-2004)
Pancasila adalah falsafah kemanusian. Nilai-nilai di dalam Pancasila bisa dilaksanakan secara universal. Kemanusian adalah nilai yang tidak pernah usang. Meski terkadang dipinggirkan dan dilupakan dalam kehidupan, namun kemanusiaan akan selalu ada.
"Nasionalisme dalam Pancasila adalah perikemanusiaan. Seorang nasionalis cinta kepada bangsanya dan semua bangsa, karena percaya setiap bangsa penting bagi dunia," kata Megawati. (Orasi ilmiah di Universitas Soka Jepang, Rabu (8/1/2020)-Ketua Umum PDIP).
Baca juga: Lantik PAW Anggota MPR RI, Bamsoet Ajak Rawat Nilai-Nilai Pancasila
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014)
Pancasila harus menjadi ideologi terbuka. Dengan sifat keterbukaannya itu, Pancasila diyakini bisa menjadi ideologi yang hidup dan mampu mengatasi dan melintasi dimensi ruang dan waktu.
"Dalam rangka revitalisasi dan aktualisasi nilai-nilai Pancasila, tentu tidak patut lagi kita perlakukan Pancasila sebagai dogma kaku, apalagi dikeramatkan," ujar SBY.
(Sambutan pada peresmian Gedung Pusat Pendidikan Pancasila dan Konstitusi di Cisarua, Bogor, Selasa (26/2/2013).