Ini menunjukkan, ujar Yetish, bahwa manusia purba mungkin telah menukar beberapa jam tidur mereka untuk berbagi informasi dan budaya di sekitar api yang semakin menipis.
"Jam-jam gelap ini tiba-tiba menjadi cukup produktif," katanya.
Nenek moyang kita mungkin telah mempersingkat waktu tidur mereka menjadi lebih pendek karena mereka memiliki hal-hal yang lebih penting untuk dilakukan di malam hari daripada istirahat.
Seberapa lama kita tidur, tentu berbeda dengan seberapa lama kita berharap dapat tidur.
Samson dan yang lainnya bertanya kepada peserta studi Hadza bagaimana perasaan mereka tentang waktu tidur mereka sendiri. Dari 37 orang, sebanyak 35 mengatakan mereka tidur 'cukup'," tim melaporkan pada 2017.
Rata-rata orang dalam penelitian ini tidur selama 6,25 jam semalam. Tetapi mereka juga sering terbangun, sehingga membutuhkan waktu lebih dari 9 jam di atas tempat tidur untuk mendapatkan tidur selama 6,25 jam itu.
Sebaliknya, sebuah studi pada 2016 terhadap hampir 500 orang di Chicago menemukan bahwa mereka menghabiskan hampir seluruh waktu mereka di tempat tidur untuk benar-benar tidur, dan secara total, mereka tidur dengan durasi sama seperti suku Hadza.
Namun hampir 87% responden dalam survei tahun 2020 terhadap orang dewasa AS mengatakan bahwa setidaknya satu hari dalam seminggu, mereka tidak merasa mendapat istirahat yang cukup.
Kenapa tidak? Samson dan Yetish mengatakan masalah tidur kita mungkin ada hubungannya dengan stres atau ritme sirkadian yang rusak.
Atau mungkin kita kehilangan sekelompok orang yang ada saat manusia berevolusi untuk tidur, kata Samson.
Ketika kita kesusahan tidur, kita bisa jadi mengalami ketidaksesuaian antara bagaimana kita berevolusi dan bagaimana kita hidup sekarang.
"Pada dasarnya kita terisolasi, dan ini mungkin mempengaruhi tidur kita," katanya.
Menurut Samson, pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana tidur manusia berevolusi dapat membantu orang beristirahat lebih baik atau membantu mereka merasa lebih baik tentang istirahat yang sudah mereka dapatkan.
"Banyak orang di bagian dunia Utara dan Barat suka mempermasalahkan durasi tidur mereka," katanya.
Tapi mungkin insomnia, misalnya, sesungguhnya adalah kewaspadaan yang berlebihan—atau kekuatan super evolusioner.
"Itu mungkin yang terjadi ketika nenek moyang kita tidur di sabana," ujar Samson.
Yetish mengatakan bahwa mempelajari tidur dalam masyarakat skala kecil telah "sepenuhnya" mengubah perspektifnya sendiri.
"Ada banyak perhatian untuk durasi tidur di Barat yang tidak sama di lingkungan ini," katanya. "Orang-orang dalam kelompok ini tidak mencoba untuk tidur dalam durasi tertentu. Mereka hanya tidur."
(Natalia Bulan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.