Share

Roe Vs Wade Dibatalkan, Mengapa Hak aborsi di AS Terus Memicu Pro dan Kontra?

Rahman Asmardika, Okezone · Sabtu 25 Juni 2022 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 25 18 2618015 roe-vs-wade-dibatalkan-mengapa-hak-aborsi-di-as-terus-memicu-pro-dan-kontra-jI4ji7yX83.jpg Foto: Reuters.

WASHINGTON - Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) telah memutuskan untuk menganulir putusan 50 tahun lalu yang membolehkan perempuan melakukan aborsi.

Dengan putusan ini maka pelarangan dan dibolehkannya hak aborsi diserahkan ke masing-masing negara bagian.

BACA JUGA: Heboh Kasus Wanita Simpan 7 Janin, Ini 4 Bahaya Aborsi Ilegal

Sebelumnya, aborsi dilegalkan di Amerika Serikat melalui putusan hukum pada 1973, yang sering disebut sebagai kasus Roe vs Wade.

Apa itu putusan Roe vs Wade?

Dilansir dari BBC Indonesia, pada 1969, seorang perempuan lajang berusia 25 tahun, Norma McCorvey, dengan nama samaran "Jane Roe", menentang larangan aborsi di Texas. Negara bagian itu menggolongkan aborsi sebagai tindakan inkonstitusional, kecuali dalam kasus di mana nyawa sang ibu dalam bahaya.

Yang mempertahankan aturan anti-aborsi itu adalah Henry Wade - jaksa wilayah di Dallas County - karenanya disebut kasus Roe vs Wade.

McCorvey sedang hamil anaknya yang ketiga ketika dia mengajukan kasus tersebut, dan mengklaim bahwa dia telah diperkosa. Namun kasusnya ditolak dan dia terpaksa melahirkan.

Pada 1973, upaya bandingnya sampai ke Mahkamah Agung AS. Kala itu, kasus Roe disidangkan bersama dengan seorang perempuan berusia 20 tahun, Sandra Bensing.

BACA JUGA: Uskup Katolik 'Bentrok' dengan Biden Terkait Hak Aborsi

Para hakim berpendapat bahwa aturan larangan aborsi di Texas dan Georgia bertentangan dengan Konstitusi AS karena melanggar hak privasi perempuan.

Dengan perbandingan suara tujuh banding dua, para hakim MA saat itu memutuskan bahwa pemerintah tidak memiliki kekuatan untuk melarang aborsi.

Mereka menilai bahwa hak perempuan untuk mengakhiri kehamilannya dilindungi oleh konstitusi AS.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Bagaimana kasus itu mengubah hak-hak perempuan?

Kasus tersebut menciptakan sistem 'trimester' yaitu:

memberi perempuan Amerika hak mutlak untuk melakukan aborsi dalam tiga bulan pertama (trimester) kehamilan

memungkinkan pembuatan peraturan pemerintah untuk trimester kedua kehamilan.

menyatakan bahwa pemerintah dapat membatasi atau melarang aborsi pada trimester terakhir karena janin mendekati titik di mana ia dapat hidup di luar rahim.

Roe vs Wade juga menetapkan bahwa pada trimester terakhir, seorang wanita dapat melakukan aborsi meskipun ada larangan hukum hanya jika dokter menyatakan perlu untuk menyelamatkan hidup atau kesehatannya.

Pembatasan aborsi apa saja yang telah diberlakukan sejak itu?

Dalam 49 tahun sejak keputusan Roe v Wade, para juru kampanye anti-aborsi mendapatkan kembali landasan argumen mereka.

Pada 1980 Mahkamah Agung AS mendukung undang-undang yang melarang penggunaan dana federal untuk aborsi kecuali bila diperlukan untuk menyelamatkan hidup seorang wanita.

Kemudian pada 1989 MA menyetujui lebih banyak pembatasan, termasuk mengizinkan pemerintah negara bagian untuk melarang aborsi di klinik negara bagian atau oleh pegawai negara bagian.

Dampak terbesar datang dari putusan MA dalam kasus Planned Parenthood v Casey pada 1992.

Walau tetap menjunjung tinggi keputusan Roe v Wade, MA juga menetapkan bahwa pemerintah negara bagian dapat membatasi aborsi bahkan pada trimester pertama untuk alasan non-medis.

Aturan baru itu tidak boleh menempatkan "beban yang tidak semestinya" pada perempuan yang mencari layanan aborsi. Namun, perempuan yang bersangkutanlah dan bukan pihak berwenang yang harus membuktikan bahwa peraturan itu benar-benar merugikan.

Akibatnya banyak pemerintah negara bagian kini memiliki batasan seperti persyaratan bahwa wanita yang hamil muda harus melibatkan orang tua mereka atau hakim dalam membuat keputusan aborsi. Juga ada aturan lain yang memberlakukan masa tunggu antara saat seorang wanita pertama kali mengunjungi klinik aborsi hingga saat menjalani tindakan.

Dampak dari pembatasan-pembatasan itu adalah banyak perempuan harus melakukan perjalanan lebih jauh untuk melakukan aborsi, seringkali ke negara bagian yang lain, dan harus membayar biaya lebih besar. Menurut gerakan pro-aborsi, perempuan miskin paling dirugikan oleh pengetatan aturan itu.

Bagaimana putusan Roe vs Wade diakhiri?

Mahkamah Agung merilis putusannya setelah mempertimbangkan sebuah kasus yang menantang larangan aborsi di Mississippi setelah 15 minggu.

Melalui putusan tersebut, MA secara efektif mengakhiri hak konstitusional warga untuk melakukan aborsi, dan membuat keputusan legal tidaknya hak aborsi akan diserahkan kepada pemerintah negara bagian masing-masing.

Siapa saja kelompok perempuan yang paling terdampak?

Membatasi akses aborsi secara tidak proporsional akan berdampak pada wanita yang lebih muda, wanita miskin dan wanita Afrika-Amerika, karena kelompok-kelompok ini lebih cenderung mencari layanan aborsi, menurut data resmi.

Mayoritas perempuan yang melakukan aborsi di AS berusia 20-an tahun.

Sekitar 57% dari aborsi yang dilaporkan pada tahun 2019 dilakukan pada wanita berusia antara 20 hingga 29 tahun.

Mayoritas negara bagian melaporkan data aborsi ke Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC), tetapi beberapa lainnya tidak.

Rachel Jones, seorang peneliti senior di Institut Guttmacher, kelompok penelitian pro-aborsi mengatakan kepada BBC: "Pasien aborsi pada umumnya berusia 20-an tahun, tidak memiliki banyak uang dan memiliki satu atau lebih anak."

Penelitian lembaga tersebut menunjukkan bahwa 75% perempuan di AS yang melakukan aborsi diklasifikasikan sebagai berpenghasilan rendah atau miskin (berdasarkan definisi kemiskinan resmi AS).

Dr Antonia Biggs, seorang peneliti di Bixby Center for Global Reproductive Health mengatakan: "Ketidaksetaraan struktural - termasuk hidup dengan pendapatan rendah dan akses terbatas ke asuransi kesehatan - semuanya berkontribusi pada tingkat aborsi yang lebih tinggi di antara orang-orang kulit berwarna."

Orang kulit hitam menyumbang 13% dari total populasi AS, tetapi perempuan kulit hitam mewakili lebih dari sepertiga praktik aborsi yang tercatat di AS dan wanita Hispanik sekitar seperlimanya.

Selama sepuluh tahun terakhir, lebih sedikit perempuan yang melakukan aborsi di seluruh AS, menurut statistik terbaru dari CDC.

Jumlah aborsi yang dilaporkan turun hampir 18% antara 2010 hingga 2019.

Pada 2019, ada sekitar 630.000 aborsi yang dilaporkan di AS, dibandingkan dengan lebih dari 765.000 pada 2010.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini