Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

8 Wabah Paling Mematikan Sepanjang Sejarah Dunia, Ada Covid-19?

Rahman Asmardika , Jurnalis-Senin, 04 Juli 2022 |13:55 WIB
8 Wabah Paling Mematikan Sepanjang Sejarah Dunia, Ada Covid-19?
Ilustrasi.
A
A
A

7. Wabah Pes Ketiga: (1855 – 1959) 

Jumlah kematian: 12 juta 

Wabah pes yang menyebabkan kematian sebagian penduduk Eropa kembali muncul dengan efek dahsyat pada 1855.

Dimulai di Yunnan, China, wabah ini menyebar ke kota-kota pelabuhan Guangzhou dan Hong Kong pada 1894. Kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan membawa wabah, menyebarkannya ke Bombay, Calcutta, Cape Town, dan San Francisco pada pergantian abad.

Tidak berhenti di situ: sebelum 1959, sekira 12 juta orang di seluruh dunia, kehilangan nyawanya akibat wabah ini.

Tetapi, dengan perkembangan sains, ini menjadi pandemi terakhir dari wabah pes. Bakteri penyebab, Yersinia pestis, diidentifikasi pada 1894 di Hong Kong. Pengamatan bahwa sampah tikus mati di jalanan sering mendahului wabah akhirnya menarik para ilmuwan ke kendaraan bakteri: kutu tikus, yang menginfeksi manusia ketika inang pertama mereka mati.

Tindakan anti tikus dan insektisida membantu pencegahan. Smeentara penemuan pengobatan yang efektif akhirnya akan menjinakkan penyakit epidemik paling mematikan yang pernah dikenal di dunia.

8. Wabah Antonine: (165-180)

Jumlah kematian: sekira 5 juta 

Wabah Antonine tahun 165 M (juga dikenal sebagai "Wabah Galen), adalah pandemi kuno yang mempengaruhi Kekaisaran Romawi antara 165 dan 180 M . Penyakit ni diyakini telah dibawa kembali ke Kekaisaran Romawi oleh pasukan yang kembali dari kampanye militer di Asia Timur pada saat itu, penyakit ini dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa dan Mediterania, merenggut banyak nyawa setelahnya (termasuk Kaisar Romawi, Lucius Verus) .

Meskipun sedikit yang diketahui tentang penyakit yang mempengaruhi Kekaisaran Romawi saat ini, catatan dari seorang dokter Yunani yang dikenal sebagai Galen menunjukkan bahwa wabah itu mungkin cacar atau campak.

Dalam catatannya, Galen menyatakan bahwa demam, diare, dan faringitis (radang tenggorokan) adalah umum di antara para korban penyakit, dengan erupsi kulit (termasuk pembentukan pustular) yang menonjol pada hari kesembilan infeksi. Untuk alasan ini, cacar sering digunakan oleh para sarjana untuk menggambarkan Wabah Antonine tahun 165 M, karena gejalanya tampak cocok.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement