Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Perwira Kerajaan Sunda Jadi Satu-Satunya Orang yang Selamat dari Perang Bubat

Avirista Midaada , Jurnalis-Rabu, 06 Juli 2022 |07:31 WIB
Perwira Kerajaan Sunda Jadi Satu-Satunya Orang yang Selamat dari Perang Bubat
Perwira Kerajaan Sunda menjadi satu-satunya orang yang selamat dalam Perang Bubat. (Ilustrasi)
A
A
A

SEBELUM terjadi perang Bubat antara Kerajaan Sunda dan Majapahit, Hayam Wuruk dilarang menemui raja Sunda. Sosok yang melarangnya adalah mahapatih Gajah Mada, yang mengaku khawatir maharaja langsung menemui raja Sunda.

Saat itu Gajah Mada meminta Hayam Wuruk tetap tinggal di istana saat Kepala Desa Bubat melaporkan kedatangan rombongan dari Kerajaan Sunda. Dikisahkan pada buku "Hitam Putih Mahapatih Gajah Mada" tulisan Sri Wintala Achmad, Gajah Mada menyebut bisa Raja raja Sunda dan rombongan yang datang adalah musuh yang bakal menyerbu Majapahit, tetapi menyamar.

Maka saran Gajah Mada untuk tidak pergi ke Bubat dituruti Hayam Wuruk. Para abdi dalam dan pejabat istana lainnya sempat terkejut mendengarnya, tapi tidak berani melawan.

Di Bubat, ada sekitar ratusan rombongan Sunda yang datang dengan kapal-kapal kecil. Mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka Raja Sunda mengirimkan utusannya, Patih Anepakan untuk pergi ke Majapahit. Ia disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu.

Mereka langsung datang ke rumah Patih Gajah Mada. Di sana ia menyatakan raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal (raja musuh Majapahit) nusantara Majapahit.

Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan Raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir Raja Sunda akan disampaikan dalam tempo 2 hari.

Sementara Raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia diperlakukan layaknya seorang vazal. Maka beliau berkata memberitahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina oleh orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.

Maharaja Linggabuana Wisesa, Raja Sunda ini kemudian menemui istri dan anaknya, serta menyuruh niat mereka pulang. Tetapi, mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.

Ketika semuanya sudah siap siaga, utusan Majapahit dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda menolaknya dengan marah dan perang pun tak dapat dihindari.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement