Share

Pasukan Keamanan Sri Lanka Serang Kamp Pengunjuk Rasa, 50 Orang Terluka

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 22 Juli 2022 14:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 22 18 2634420 pasukan-keamanan-sri-lanka-serang-kamp-pengunjuk-rasa-50-orang-terluka-38Xdax5oAi.jpg Pengunjuk rasa menguasai istana Presiden Sri Lanka (Foto: Reuters)

KOLOMBO - Pasukan keamanan Sri Lanka menyerang sebuah kamp pengunjuk rasa anti pemerintah di ibu kota komersial Kolombo pada Jumat (22/7/2022) pagi.

Penyerangan itu sebuah tanda bahwa Presiden baru negara itu melakukan penumpasan sehari setelah dia dilantik.

Ratusan personel keamanan mengepung kamp yang diberi nama "Gota Go Gama", yang berarti "Pulanglah Gota", untuk mengejek mantan Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa.

Kedua penyelenggara unjuk rasa itu mengatakan pengepungan itu dilakukan tengah malam dan kemudian aparat membongkar sebagian dari kamp itu.

Baca juga: Cerita dari Dalam Istana Presiden Sri Lanka yang Diserbu, Warga Berfoto hingga Berenang

Sedikitnya 50 pengunjuk rasa terluka, termasuk beberapa wartawan yang dipukuli oleh petugas keamanan.

Baca juga: Sri Lanka Lantik Presiden Baru di Tengah Krisis Ekonomi Terburuk

"Itu adalah serangan sistematis dan terencana," kata penyelenggara protes Chameera Dedduwage kepada Reuters, dikutip Antara.

"Mereka benar-benar menyerang orang secara brutal,” lanjutnya.

Penyelenggara protes Manjula Samarasekara mengatakan setelah mengepung kamp pengunjuk rasa, petugas keamanan bergerak di depan sekretariat presiden, kemudian mulai membongkar beberapa tenda dan menyerang pengunjuk rasa di daerah tersebut.

Follow Berita Okezone di Google News

Bagian dari sekretariat era kolonial tersebut diduduki oleh pengunjuk rasa, bersama dengan kediaman resmi Presiden dan PM pada awal bulan ini. Tempat tinggal itu kemudian diserahkan kembali kepada otoritas pemerintah.

"Sangat prihatin dengan laporan dari laman protes Galle Face," kata Sarah Hulton, Komisaris Tinggi Inggris untuk Sri Lanka, dalam sebuah cuitan melalui twitter.

"Kami telah menjelaskan pentingnya hak untuk melakukan protes damai,” ujarnya.

Juru bicara polisi dan tentara tidak segera menanggapi konfirmasi dari Reuters.

Seperti diketahui, Sri Lanka berada di bawah keadaan darurat yang diberlakukan oleh Presiden baru Ranil Wickremesinghe pada Minggu (17/7/2022). Peraturan darurat sebelumnya telah digunakan untuk memberikan kekuasaan kepada militer untuk menahan dan menangkap pengunjuk rasa, dan membatasi hak untuk protes.

Mantan Perdana Menteri (PM) Wickremesinghe, dilantik pada Kamis (21/7/2022) setelah memenangkan pemungutan suara parlemen pada Minggu (17/7/2022) ini, menyusul pengunduran diri Rajapaksa yang melarikan diri dari Sri Lanka setelah unjuk rasa publik besar-besaran yang dipicu oleh krisis ekonomi terburuk negara itu dalam tujuh dekade.

1
2
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini