Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tak Hanya Bernyali Besar, 2 Pahlawan Ini Ternyata Hafidz Quran

Tim Litbang MPI , Jurnalis-Selasa, 02 Agustus 2022 |07:03 WIB
Tak Hanya Bernyali Besar, 2 Pahlawan Ini Ternyata Hafidz Quran
Cut Nyak Dien (Foto: Wikipedia)
A
A
A

JAKARTA - Seorang pahlawan selalu identik dengan kemampuan militer. Namun, ada juga pahlawan yang merupakan seorang penghafal Alquran atau hafidz Quran.

Dengan kecerdasan agama yang dimiliki, semakin melengkapi kemampuannya dalam menghadapi penjajah. Berikut daftarnya:

1. Cut Nyak Dien 

Pahlawan nasional wanita ini berasal dari Aceh Barat. Lahir pada tahun 1848, Cut Nyak Dien tumbuh besar di keluarga bangsawan dan memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat.

Cut Nyak Dien memiliki kecerdasan agama Islam dan telah menghafal Alquran. Semasa pengasingannya di Sumedang pun, dia memberikan bimbingan pada masyarakat tentang ajaran Islam dan kegiatan sehari-harinya adalah mengkaji ilmu agama dan membaca Alquran.

Pada usia 12 tahun Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, yang juga berasal dari keluarga bangsawan. Penyerangan Belanda terhadap rakyat Aceh yang menewaskan suaminya membuat Cut Nyak Dien semakin tak gentar melakukan perlawanan.

Beberapa tahun setelah kematian Teuku Ibrahim, Cut Nyak Dien kembali menikah di tahun 1880 dengan Teuku Umar. Cut Nyak Dien, Teuku Umar, dan seluruh pejuang Aceh lainnya saling bahu-membahu melakukan serangan untuk mengusir Belanda dari tanah Aceh.

Kematian Teuku Umar di medan perang tidak membuat Cut Nyak Dien patah semangat. Cut Nyak Dien tetap melanjutkan perlawanannya terhadap Belanda.

Perjuangannya berakhir saat ia ditangkap Belanda. Cut Nyak Dien lalu dibuang oleh Belanda ke Sumedang, Jawa Barat hingga meninggal pada 6 November 1908. 

2. Tan Malaka

Pahlawan nasional sekaligus tokoh paham komunis buronan kolonial ini lahir pada 2 Juni 1897di Kabupaten Suliki, Sumatera Barat. Nama sebenarnya adalah Ibrahim, sedangkan Tan Malaka didapatkannya dari ibunya yang merupakan keturunan bangsawan. 

Tan Malaka sudah dikenal sebagai pribadi yang cerdas. Meski, memiliki paham marxisme, sejak kecil Tan sudah lekat dengan ilmu agama.

Selepas bermain, seperti anak lelaki Minang pada umumnya, Tan Malaka akan mengaji di surau pada saat magrib. Di surau pula ia menghabiskan malam hingga pagi. Tan dikenal sebagai anak pemberani, tapi tidak pernah meninggalkan sholat dan hafal Quran. 

Tan Malaka gemar membaca buku saat berkuliah di Belanda. Buku-buku yang dibacanya adalah Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin yang kemudian membawanya pada pemikiran “kiri”.

Ketika kembali ke Indonesia, Tan Malaka yang melihat bagaimana tidak adilnya kehidupan yang diterima para petani membuat amarah dan semangat juangnya mendidih. Tan Malaka kerap menulis di media massa untuk mengumbar kebenciannya terhadap Belanda, hingga diburon dan membuatnya harus berkelana ke berbagai negara dan menggunakan samaran.

(Arief Setyadi )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement