Sektor komersial sudah menjadi bagian penting dari program luar angkasa AS, dengan perusahaan-perusahaan swasta diberi tanggung jawab untuk pengiriman awak dan kargo. Pesawat ruang angkasa Soyuz dan Progress milik Rusia juga digunakan.
Menurut NASA, mereka akan menghemat $1,3 miliar (Rp18,6 triliun) dengan mengalihkan aktivitas di orbit rendah bumi ke sektor swasta. Uang sebanyak itu dapat digunakan untuk penjelajahan antariksa yang lebih luas.
Penghematan itu diantisipasi karena NASA tinggal membayar untuk layanan yang dibutuhkannya, tanpa mengeluarkan biaya untuk pemeliharaan dan operasional ISS. NASA juga mengatakan bahwa stasiun ruang angkasa yang dibuat oleh sektor swasta akan lebih baru dan membutuhkan lebih sedikit suku cadang.
BACA JUGA:NASA Rilis Penampakan Galaksi Andromeda Terbesar
NASA mengatakan bahwa mereka menganalisis anggaran ISS setiap tahun dan akan terus memperbaiki estimasi penghematannya.
Laporan ini diterbitkan oleh NASA setelah pemerintahan Presiden Joe Biden menyatakan komitmen untuk memperpanjang kegiatan stasiun ruang angkasa hingga 2030.
Namun, perpanjangan itu masih membutuhkan dukungan dari para mitra internasional, termasuk Rusia, dan pendanaan untuk ISS saat ini hanya disetujui oleh Kongres AS hingga 2024.
Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Rusia Interfax pada Desember 2021, kepala program luar angkasa Rusia, Dmitry Rogozin, mengindikasikan kesediaan untuk bekerja dengan NASA setelah 2024.
"Tindakan berbicara lebih lantang daripada kata-kata," katanya. "Tahun ini kami telah mengirim modul Nauka baru ke ISS, yang diperkirakan akan berlangsung setidaknya 10 tahun."
Sang kepala Roscosmos juga mengeluh bahwa sanksi AS terhadap Rusia merugikan industri ruang angkasa negara itu, dan sebelumnya ia pernah mengatakan bahwa Rusia dapat mengakhiri partisipasinya dalam program ISS jika sanksi tidak dicabut.
BACA JUGA:NASA Kehilangan Kontak dengan Satelit yang Baru Diluncurkan
AS dan mitra-mitranya di Barat telah mengancam akan menjatuhkan lebih banyak sanksi terhadap Rusia jika mereka menginvasi Ukraina, meskipun bentuk pasti sanksi tersebut belum diketahui.
Rusia sebelumnya mengatakan bahwa ISS tidak akan mampu berfungsi setelah 2030 karena kelelahan struktural, dan memperingatkan bahwa peralatan usang dapat menyebabkan kegagalan yang "tidak dapat diperbaiki".
(Nanda Aria)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.