Ia memangku berbagai jabatan penting di kampungnya, seperti penghulu dan ketua adat, serta menjadi juru damai atas berbagai sengketa yang terjadi baik itu antarkampung, antarmarga, maupun antara orang Karo dan Aceh.
Ketika terjadi Perang Sunggal (1872-1895), antipati Kiras Bangun terhadap Belanda sudah terlihat jelas. Ia mengirim pasukan untuk membantu penduduk Langkat dalam melawan Belanda.
Sejak itu, Belanda mengetahui pengaruh besar Kiras Bangun. Tak heran, ketika Belanda hendak menguasai Tanah Karo untuk meluaskan lahan perkebunan tembakau dan karet, Belanda mendekati Kiras Bangun dengan mengiming-iminginya jabatan, uang, dan senjata.
Namun, sosok yang dijuluki Garamata (bermata merah) itu tegas menolak hingga kemudian terjadilah perlawanan terhadap Belanda.
Kiras Bangun yang diangkat sebagai pemimpin, menghimpun pasukan serta mengumpulkan senjata untuk mengusir Belanda. Ia menempatkan pasukan di perbukitan yang terletak antara Berastagi dan Sepuluh Dua Kuta.