Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Apa Benar Uang Jadi Modal Utama Raup Suara di Pemilu?

Inin Nastain , Jurnalis-Kamis, 25 Agustus 2022 |14:34 WIB
Apa Benar Uang Jadi Modal Utama Raup Suara di Pemilu?
Foto: Tangkapan layar/Inin N/MPI
A
A
A

JAKARTA - Uang dianggap menjadi kunci saat Pemilu. Uang juga kerap dianggap menjadi panglima saat masuk tahun politik. Tidak jarang beredar kabar adanya transaksi antara Calon Legislatif Caleg) dengan masyarakat, guna bisa meraup suara yang besar, sehingga bisa meloloskan yang bersangkutan masuk jadi anggota legislatif.

Politikus dari PDI Perjuangan Diah Pitaloka mengaku tidak sepenuhnya yakin uang menjadi modal utama untuk meraup suara dalam Pemilu.

“Apa bener pemilu itu, orang harus ber-uang? Modal itu, tidak harus selalu uang ya. Modal dasar politik itu kan sebetulnya dukungan politik, kalau untuk maju. Nah sejauh dukungannya kuat, jujur, saya tidak pernah memikirkan antara fenomena pemilu dengan kebutuhan uang,” kata Diah dalam diskusi publik terkait dengan persiapan Pemilu 2024 dengan tajuk program ‘Election Talk Series,’ yang diadakan BRIN bekerjasama dengan International IDEA pada Kamis (25/8/2022) secara daring.

BACA JUGA:Bertemu dengan Ketum Golkar dan Susi Pudjiastuti, Hary Tanoesoedibjo: Akan Sangat Baik Tentunya Pemilu 2024

Di luar uang, Diah menilai, strategi seorang Caleg bisa menentukan hasil suara yang didapat. Ketika strateginya bagus, meskipun dengan modal yang tidak besar, tetapi yang bersangkutan bisa saja lolos, dan mengalahkan yang memiliki uang besar.

“Misalnya support. Kita kan begitu mau maju, nggak tahu bahwa kita akan disupport siapa. Ada yang ngasih stiker misalnya, nanti ada yang bantu nyetakin spanduk misalnya. Artinya nggak harus orang bikinin spanduk 10 ribu. Yang efektif bisa jadi medianya yang tidak mahal. Misalnya kartu nama. Itu kan tidak mahal,” beber dia.

“Jadi kebutuhan uang dalam pemilu menurut saya sangat berkorelasi dengan strategi yang digunakan. Dan strategi yang digunakan, itu tentu mengikuti modal politik kita. Misalnya network kita bagus. Spanduk atau billboard oke, tapi apakah efektif untuk kita? Nah itu belum tentu. Ada calon-calon yang punya kekuatan komunikasi, misalnya. Relasi, jaringan. Nah ini sangat tergantung dengan strategi yang digunakan,” lanjut dia.

Dia tidak menampik, di kalangan masyarakat mungkin masih kuat tradisi uang itu. namun, dia mempertanyakan apakah yang dikasih uang itu, sudah dipastikan akan memberi suara kepada Caleg yang bersangkutan atau tidak.

“Orang dapat duit, senang, iya. Tapi apakah orang memilih karena uang? Nah jangan-jangan ini jadi tradisi baru, ya sebetulnya nggak efektif. Nah ini juga yang harus kita cermati, mungkin ya. Sebagai Caleg. Orang habis banyak uang, mungkin. Menggunakan banyak uang untuk itu, mungkin. Tapi apakah itu menjadi suara? Apakah pemilih kita benar-benar memilih karena uang? Jawabannya bisa jadi iya, karena nggak enak kan. Udah dikasih, masa nggak milih,” ungkap dia.

“Tapi saya nggak terlalu yakin, itu efektif. Karena susah. Karena orang menggunakan strategi yang sama dalam satu moment, itu menurut saya sangat tidak efektif. Jangan juga kita membangun tradisi pragmatis. Ini juga kritik terhadap kita semua," kata dia. 

(Widi Agustian)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement