JAKARTA - Tekad Habibie untuk menikahi Ainun sangatlah besar. Dia harus segera melaksanakan pernikahannya sebelum masa cutinya habis.
Berbagai macam tahap pernikahan telah dilakukannya. Mulai dari pertunangan hingga proses pernikahan tradisi pria Gotontalo dan tradisi Jawa. Ketika Habibie dan Ainun melempar bunga, menurut keyakinan tradisi Jawa, yang dominan dalam kehidupan berumah tangga adalah siapa yang pertama mengenai sasaran.
“Ternyata kami bersamaan serentak mengenai sasaran. Berarti kami Insya Allah akan selalu setara sebagai suami dan isteri, akan setia bersama-sama membangun keluarga sakinah yang diilhami dan dikalbui oleh cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi!” ujar Habibie seperti dikutip pada buku Habibe & Ainun.
Selanjutnya acara resepsi menurut budaya Gorontalo dilaksanakan. Saat itu, Ainun terlihat cantik dengan busana adat Gorontalo dengan hiasan rambut yang sangat ketat dan berat. Menurut tradisi, ini merupakan ujian bagi pengantin wanita, apakah tetap anggun dan tidak mengeluh, tegak, tersenyum walaupun rambut dan kepalanya sakit.
Setelah acara pernikahan selesai, pengantin baru itu harus segera menyekar ke makam Ayah kandung Habibie di Makassar dan berbulan madu di Bali dan Yogja. Semuanya berjalan lancar dan memberi kenangan manis dan abadi.
Seperti yang dikisahkan di buku Habibie & Ainun, dalam tiga bulan banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan Habibie. Bagi dirinya, Ibu sangat berperan besar dalam proses pembudayaan dan pendidikan. R.A. Tuty Marini Puspowardojo adalah namanya, lahir di Yogja berketurunan Jawa.
“Beliau sangat mengenal karakter, perilaku dan bakat anaknya. Beliau sangat menyadari bahwa saya sering menyendiri dan konsentrasi pada lingkungan dunia saya, lupa makan, lupa minum vitamin sehingga sering sakit. Beliau sering memaksa saya untuk bermain di luar dengan anak-anak lain dan tidak menyendiri di rumah,” katanya Habibie saat menceritakan sosok Ibunya.