Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Gempa Bertubi, Dua Dandim, Satu Komando

Tim Okezone , Jurnalis-Senin, 12 September 2022 |14:48 WIB
Gempa Bertubi, Dua Dandim, Satu Komando
Doni Monardo dan Kolonel Tri Aji. (Foto: Dok Ist)
A
A
A

KISAH tercecer ini adalah kesaksian dua perwira menengah yang berada pada pusaran komando Doni Monardo. Mereka adalah Kolonel Inf Tri Aji Sartono dan Letkol Inf Yudi Rombe. Saat itu, Tri Aji adalah Dandim 1418/Mamuju. Sedangkan Yudi Rombe adalah Dandim 1401/Majene.

Saat ini Letkol Inf Yudi Rombe mendapat tugas baru sebagai Irdya Intelter Itutum It Kostrad. Dua teritori Kodim di Sulawesi Barat, di bawah Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin.

Dua wilayah itulah yang tertimpa bencana alam gempa bumi dahsyat pada hari Jumat tanggal 15 Januari 2021. Gempa berkekuatan 6,2 SR tadi, meluluhlantakkan rumah-rumah, gedung-gedung perkantoran, hotel-hotel, jembatan, dan berbagai bangunan lain.

“Gempa pertama kami rasakan sore hari tanggal 14, tapi tidak signifikan. Gempa besar justru yang kedua, keesokan harinya 15 Januari sekitar jam 03.00 pagi. Gempa pagi menjelang subuh itulah yang berdampak serius, karena memang kami rasakan sangat kuat,” ujar Tri Aji.

Seketika Tri Aji mengecek pangkalan, asrama, kantor, dan lain-lain di lingkungan Kodim Mamuju. " Kami mengevakuasi keluarga, lalu pukul lima semua anggota Kodim saya kumpulkan di Makodim,” ujarnya.

Pagi itu juga, ia melapor kepada atasan langsung, Danrem 142/Taroada Tarogau, Brigjen TNI Firman Dahlan. Aji juga meminta bantuan tambahan pasukan. “Kami mendapatkan tambahan 40 personel dari Korem 142/TT,” ujarnya.

Sejurus kemudian, melalui Sekda Tri Aji mendapat amanat Bupati, untuk “mengambil-alih situasi”.

Secara kronologi, Tri Aji menyebutkan, pukul 05.30 bantuan pasukan Korem sudah datang di kantor Makodim Mamuju di Jl. Ahmad Yani, Binanga. Juga tiba bantuan Basarnas Kabupaten Mamuju.

Sebanyak 20 personel Basarnas datang membawa truk dan berbagai peralatan. Tak hanya itu, Kalak BPBD Mamuju juga merapat ke Makodim.

Baca juga: Antusiasme Calon Purnawirawan Ikuti Pelatihan: Kalau Bisa, Saya Pensiun Sekarang Juga

“Semua unsur sudah berkumpul, lalu saya bagi tugas. Ada yang bertugas mengidentifikasi, pemetaan dan evakuasi. Fokus pertama adalah evakuasi atau pertolongan kepada korban yang terjebak reruntuhan bangunan,” ujarnya.

Hasil identifikasi diketahui ada beberapa titik yang terbilang parah. Satu bangunan rumah sakit, satu lagi bangunan minimarket, dan satu lagi bangunan di Jalan Pababari.

Dandim Tri Aji lalu membagi personel menjadi kelompok-kelompok. Per kelompok antara 5 – 7 orang dipimpin oleh bintara. Mereka dibekali Handy Talky sebagai alat komunikasi.

Telepon Doni

Selagi mengatur aktivitas evakuasi korban, telepon genggam berdering. Jam tangan menunjuk angka tujuh. Tri mengangkat telepon, dan terdengar suara yang tak asing baginya. Suara komandannya dulu ketika berdinas di Yonif 741/Satya Bhakti Wirottama, Singaraja, Bali. Ya, itu suara Doni Monardo. Correct Tri menyahut, “Siap. Selamat pagi Komandan!”

Di ujung telepon, pertama-tama Doni bertanya, “Bagaimana kamu Tri?” Setelah dijawab “Siap, alhamdulillah selamat!” Disusul pertanyaan kedua Doni, “Keluargamu bagaimana?” Kembali Tri Aji menjawab, “Siap, alhamdulillah selamat.”

Try pun melaporkan keadaan sejauh informasi yang ia dapat hingga pukul 07.00. Itu artinya empat jam dari gempa dahsyat yang terjadi pukul 03.00 pagi. Informasi yang ia sampaikan kepada Kepala BNPB Doni Monardo antara lain kerusakan kantor gubernur, rumah sakit, dan sejumlah bangunan lain dengan tingkat kerusakan parah.

Ubah Tujuan

Pagi itu 15 Januari 2021, di Jakarta, semula Kepala BNPB siap siap melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sumedang, Jawa Barat bersama sejumlah anggota DPR RI dari Komisi 8.

Seketika mendengar kabar terjadinya gempa, Doni segera merubah rencana, berangkat ke Mamuju Sulawesi Barat.

Kami semua masih menginap di lantai 10, Graha BNPB. Gesit berkemas, kami meluncur ke Base Ops Bandara Halim Perdana Kusuma. Dalam perjalanan, karena satu mobil, saya menyimak Doni berbicara dengan Presiden Jokowi Widodo via sambungan telpon. Doni melaporkan apa yang terjadi di Sulbar kepada presiden.

Nah kembali ke kisah Tri Aji. Selesai menerima laporan dari Tri Aji, Doni menutup telepon dengan kalimat, “Tetap laksanakan dan lanjutkan kegiatan. Utamakan evakuasi korban. Selamatkan nyawa.”

Memang itulah yang terjadi hari pertama gempa. Seluruh aparat TNI-Polri, Basarnas, BPBD, dan berbagai unsur lain bahu-membahu melakukan evakuasi korban. Terik matahari tak terasa. Haus lapar tak dirasa. Matahari pun kian condong ke barat. Mereka seperti berkejaran dengan waktu untuk bisa mengevakuasi sebanyak-banyaknya korban, dan melarikannya ke rumah sakit.

Telepon kedua Doni Monardo kembali berdering. Doni dan rombongan siang itu sudah mendarat di Mamuju menggunakan Hercules TNI AU. “Tri, kamu di mana, saya di depan Kodim. Ayo kita ke rumah dinas gubernur,” terdengar perintah Doni di ujung telepon. Rupanya, Doni mampir Kodim untuk mengajak Tri bersama-sama ke rumah dinas Gubernur Sulbar Ali Baal. Sementara Tri masih berada di lapangan.

 

Rapat Dadakan

Di rumah dinas gubernur, kondisi relatif aman. Bangunan itu tampak retak di beberapa bagian, tetapi masih relatif utuh. Di sana, selain Doni Monardo, juga hadir Mensos Rismaharini dan Pangkogabwilhan II, Marsekal Madya TNI Imran Baidirus.

Setelah meminta laporan perkembangan serta situasi terakhir di lapangan, Doni Monardo langsung memberi arahan. Personel BPBD Mamuju diminta mencari lokasi yang representatif dibangun barak pengungsian. Semua pengungsi yang terpencar-pencar, harus segera dikonsentrasikan ke titik-titik pengungsian.

Malam itu juga ketemu 13 lokasi yang bisa dijadikan titik pengungsian. Sebagian bisa menampung hingga ribuan orang, sebagian lain ratusan pengungsi. Ke-13 titik itu tersebar di berbagai daerah di Mamuju.

“Bangun titik pengungsian yang memadai, perhatikan masalah air dan sanitasi. Mereka akan tinggal di tenda pengungsian untuk waktu yang relatif lama, sampai proses rehab-rekon selesai," ujar Doni.

Setelah itu, Doni meminta Danrem Brigjen TNI Firman Dahlan mengkoordinir dua Kodim yang tertimpa bencana Mamuju dan Majene. Dandim Mamuju dan Dandim Majene masing-masing menjadi Komandan Sektor di teritori binaannya.

Usai briefing di rumah dinas gubernur, masing-masing kembali ke lapangan. Sebelum bubar, Doni memanggil Try dan memberinya tugas khusus, mendampingi Mensos ke stadion Manakarra Mamuju melihat para pengungsi di sana. Ketika itu, situasinya hujan.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement