ASTO PUASO, warga Padukuhan Plembutan Timur RT 13 RW 04, Kalurahan Plembutan Kapanewon Playen Gunungkidul ini masih mencari sosok ayahnya, Wasirin. Seniman lukis ini masih yakin jika bapaknya, Wasirin (Mbah Sirin) hilang dan hidupnya berakhir di Luweng (Goa Vertikal) Grubug yang berada di kapanewon Semanu.
Berdasarkan cerita warga sekitar, Luweng Grubug sendiri selama ini dikenal sebagai tempat pembuangan eks PKI dan juga penjahat kala jaman Petrus (penembak misterius). Namun Asto mengungkapkan jika bapaknya hilang bersamaan dengan penumpasan PKI usai peristiwa 1965 lalu bukan ketika jaman Petrus.
Ya, selain untuk membuang korban penumpasan G30/S/PKI, Gua Grubug juga diyakini sebagai tempat pembuangan korban Petrus yang banyak terjadi di tahun 80an lalu. Hal tersebut diungkapkan oleh Paijem, warga yang sering mencari rumput di sekitar mulut goa Grubug.
"Cerita bapak saya. Memang dipakai untuk membuang mayat-mayat PKI dan dulu awal tahun 80an sering ada kabar membuang mayat gali (preman)," tutur Paijem.
BACA JUGA:Kisah Bukit Soeharto, Sejarah Kelam Penjajahan Jepang dan Pembuangan Mayat Korban Petrus
Pada tahun 1980-an, angka kejahatan di Indonesia begitu tinggi, khususnya di daerah Jakarta dan Jawa Tengah. Pemerintah Orde Baru pada saat itu melakukan operasi rahasia agar kasus kejahatan diturunkan. Mereka menangkap dan membunuh para preman, perampok, gali, atau orang-orang yang dianggap mengganggu ketentraman masyarakat.
Sempat mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto karena terbukti efektif dalam menurunkan kasus kejahatan, operasi ini menciptakan kontroversi karena banyak pelaku yang mati ditembak. Pada tahun 1983 misalnya, ada 532 orang tewas karena tembakan.
Dilansir dari laman Historia, peristiwa petrus di Yogyakarta bermula saat Komandan Kodim Yogyakarta, Letkol. M. Hasbi melancarkan operasi pemberantasan kejahatan (OPK) yang awalnya diklaim hanya untuk pendataan para pelaku kriminal. Namun ternyata pendataan itu berubah menjadi proses penangkapan secara semena-mena.
BACA JUGA:Musso, Tokoh PKI yang Belajar Komunisme Langsung dari Stalin di Uni Soviet
Para waktu itu, orang-orang yang dianggap sebagai gali (gabungan anak liar) maupun preman dilaporkan hilang dan kemudian ditemukan tewas. Rata-rata dari mereka mengalami luka tembak mematikan di bagian kepala dan beberapa di bagian leher. Bahkan, beberapa dari mereka adalah tokoh gali yang terkenal di kalangan masyarakat Yogyakarta.