Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kerajaan Pajajaran: Sejarah, Silsilah Pendiri dan Peninggalannya

Rifqa Nisyardhana , Jurnalis-Senin, 26 September 2022 |19:05 WIB
Kerajaan Pajajaran: Sejarah, Silsilah Pendiri dan Peninggalannya
Arca Domas peninggalan Kerajaan Pajajaran. (Foto: Youtube SindangBarang EO)
A
A
A

JAKARTA - Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan bercorak Hindu terbesar di Pakuan (sekarang Bogor), Jawa Barat.

Kerajaan ini didirikan pada 923 M oleh Sri Jayabhupati yang terbentang dengan luas sepertiga atau seperdelapan pulau Jawa.

Menurut peta Portugis, ibu kota kerajaan Pajajaran berada di wilayah Bogor. Sementara itu, wilayah kekuasaannya melingkupi Jawa Tengah, Jakarta, dan Jawa Barat.

Sejarah Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran mendapat puncak keemasannya saat pemerintahan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi pada 1482-1521 M.

Sistem politik yang dijalankan pada masa itu adalah feudal. Dengan begitu, posisi tertinggi dikuasai oleh seseorang yang bergelar Prabu atau raja.

Agama yang dipegang adalah Hindu Saiwa. Hal ini terbukti dalam jejak peninggalannya di prasasti Kawali dan Sahyang Tapak.

Baca juga: Serangan Mengejutkan Diterima Kerajaan Galuh saat Rajanya Sabung Ayam

Selain itu, ada pula agama Hindu Waismawa dan Budha. Ketiga agama tersebut saling beriringan dengan toleransi antar sesama.

Kehidupan ekonomi pada zaman Kerajaan Pajajaran bergantung kepada kegiatan agraris (bercocok tanam) dan perdagangan.

Pada 1597 M, Kerajaan Pajajaran runtuh karena diserang oleh Kesultanan Banten. Selain itu, terjadi pula perebutan batu penobatan oleh panglima perang kesultanan Banten, Maulana Yusuf.

Silsilah Pendiri Kerajaan Pajajaran

Selain Sri Jayabhupati sebagai pendirinya, berikut enam pemimpin yang pernah bertakhta di Kerajaan Pajajaran.

1. Raja Sri Baduga Maharaja (1482–1521)

Dia dikenal sebagai Prabu Siliwangi yang memegang takhta di Pakuan. Masa pemerintahannya merupakan masa kejayaan. Banyak pembangunan yang dilakukan untuk membantu kehidupan rakyat.

2. Raja Surawisesa (1521–1535)

Dalam masa pemerintahannya, tidak terdapat prestasi yang diraihnya. Namun, tidak mengalami kemunduran juga.

3. Ratu Dewata (1535 –1543)

Pada masa pemerintahannya selama delapan tahun, terjadi banyak kekacauan. Hal ini disebabkan karena ketidakcakapannya sebagai pemimpin sehingga dia menanggalkan jabatannya.

4. Ratu Sakti (1543–1551)

Sama seperti pemimpim sebelumnya, Ratu Sakti hanya menjabat selama delapan tahun. Dalam pemerintahannya, tidak ada kemajuan dan dia tidak disukai rakyat karena sifat borosnya.

5. Ratu Nilakendra (1551–1567)

Awal kemunduran Kerajaan Pajajaran dimulai saat masa pemerintahannya. Ketika terjadi penyerangan oleh Hassanuddin dari kerajaan Banten, Ratu Nilakendra malah melarikan diri dan melepas jabatannya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement