Share

Mengenal Tobong Gamping yang Jadi Polemik karena Dijadikan Ikon Gunungkidul

Erfan Erlin, iNews · Selasa 27 September 2022 16:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 27 510 2676023 mengenal-tobong-gamping-yang-jadi-polemik-karena-dijadikan-ikon-gunungkidul-tnl0BJQ3PA.jpg Dua pekerja menjaga bara api pembakaran tobong gamping (Foto : MPI)

GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul akan mengganti Monumen Patung Pengendang di Bundaran Siyono, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen, dengan Monumen Tobong Gamping. Rencana tersebut mendapat penolakan dari beberapa pihak, baik dari kelompok masyarakat ataupun kalangan legislatif sendiri.

Mereka menolak karena menganggap tobong gamping sebagai salah satu biang kerusakan lingkungan yang terjadi di Gunungkidul. Karena akibat aktivitas Tobong Gamping tersebut, penambangan Batu Kapur terjadi di berbagai titik. Oleh karenanya, mereka menolak rencana menjadikan Tobong Gamping sebagai Ikon Gunungkidul.

Namun Tobong Gamping memang pernah mewarnai perjalanan Gunungkidul bahkan menjadi penopang perekonomian wilayah ini. Tobong Gamping pernah berjaya di tahun 80an hingga 90an. Salah satunya adalah di kawasan Kalurahan Karangtengah, Kapanewon, Wonosari.

Di tahun tersebut, puluhan Tobong Gamping sempat beroperasi. Kala itu, permintaan gamping atau serbuk bahan campuran semen untuk bahan bangunan ini cukup tinggi. Puluhan Tobong Gamping bermunculan. Namun kini, di wilayah tersebut tinggal 1 orang saja.

Salah satunya adalah milik Wardoyo (62) yang berada di Pedukuhan Kajar II, Kalurahan Gari, Wonosari. Dia adalah satu dari dua pengusaha Tobong Gamping yang masih bertahan di Gunungkidul. Karena yang lain sudah banyak yang gulung tikar.

Saat ini lelaki ini masih memiliki beberapa Tobong, hanya tinggal 3 yang masih berfungsi. Dua Tobong yang menggunakan bahan bakar kayu bakar dan satu lagi berukuran besar menggunakan serbuk gergaji kayu. Sisanya kini kebanyakan kondisinya sudah rusak tak berbentuk dan telah menjadi semacam 'monumen'.

Ketika media ini berkunjung ke lokasi Tobong tersebut nampak 4 orang pekerja sedang melakukan aktivitasnya. Tiga orang nampak memecahi batu putih dan memukulnya lalu memasukkannya ke dalam Tobong.

Satu orang nampak mengatur bara api di bawah Tobong dengan bahan bakar serbuk kayu. Sementara dua orang lainnya juga nampak menunggui nyala api Tobong tersebut dan sesekali memperbaiki posisi kayu yang mereka gunakan untuk membakar batu putih tersebut.

Satimin (62), salah satu pekerja di Tobong Gamping itu menuturkan, sebenarnya dia sudah bekerja di Tobong tersebut sejak awal tahun 80an. Namun dia sempat berhenti bekerja dan beralih profesi menjadi sopir truk. Ia kembali bekerja di Tobong Gamping itu akhir tahun 1990an karena situasi transportasi terus menurun.

Sejak dia kecil, Tobong gamping memang banyak dijumpai di wilayahnya. Ia memperkirakan setidaknya ada 50 lebih Tobong gamping yang beroperasi di awal tahun 70an. Kala itu, hampir semua warga di Gari berprofesi sebagai pekerja Tobong gamping.

"Jaya-jayanya (puncaknya) ya pas gempa Bantul 2006 itu. Banyak sekali yang bekerja, kan saat itu banyak warga yang membangun rumah dan permintaan batu gamping meningkat drastis,"ujar dia

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Cara kerja Tobong Gamping cukup sederhana, yaitu memasukkan batu ke dalam tungku, lalu dibakar sesuai kebutuhan. Nama Tobong mengacu pada bentuk bangunannya yang berupa menara.

Meski sederhana, proses pembakaran bisa memakan waktu 24 jam dalam sepekan untuk 15 ton batu putih, yang menjadi batu kapur. Selain sebagai bahan bangunan, batu kapurnya digunakan untuk menetralkan limbah tambak udang.

"Ya rata-rata segitu. Mau nambah sekarang susah pekerjanya,"terang dia.

Namun sekitar 3 dekade setelahnya, masa kejayaan itu meredup dan usaha Tobong Gamping kian ditinggalkan. Menurut Satimin, redupnya kejayaan Tobong Gamping tak terlepas dari turunnya permintaan batu kapur untuk bahan bangunan. Tak tanggung-tanggung, penurunannya mencapai 70 persen lebih.

Kini permintaan masih tetap ada, namun tidak sebanyak dulu. Semarang, Pemalang, Tegal hingga Jakarta masih jadi tujuan pengiriman batu kapur hasil olahan Tobong Gamping. Ke Semarang dalam sebulan bisa sampai 70 ton batu kapur, per kilonya dihargai Rp 1.000,00.

"Sekarang untuk tambak udang, peternakan ayam dan industri pupuk organik,"ungkapnya.

Menurut Satimin, idealnya pengerjaan Tobong Gamping membutuhkan sekitar 30 orang dalam sehari. Namun saat ini, hanya ada 7 orang yang bekerja per hari, dengan usia tak lagi muda. pasalnya bekerja di Tobong Gamping cukup menguras tenaga.

Selain masalah tenaga, bahan batu putih pun kini kian sulit didapatkan dan harganya sudah mahal. Adapun bahannya kini didapat dari Gari sendiri dan Kapanewon Semanu.

Terpisah, Wardoyo (62) selaku pemilik usaha Tobong Gamping memilih tetap bertahan demi puluhan pegawainya. Jika ia tidak mempertahankan usahanya maka puluhan karyawannya akan kehilangan mata pencaharian mereka

"Sebab kasihan sama tenaganya, mereka tetap perlu bekerja," ujar pria yang juga memiliki usaha bahan bangunan ini.

Wardoyo mengaku tidak mengetahui sejak kapan industri Tobong Gamping rumahan berdiri di wilayah mereka. Karena ia sudah menjadi generasi kesekian di keluarganya dalam mengelola Tobong Gamping.

Wardoyo mengungkapkan jika Tobong Gamping miliknya sempat disurvei untuk dijadikan contoh rancangan monumen di Bundaran Siyono. Dijadikannya Tobong Gamping sebagai ikon Gunungkidul pun seakan jadi secercah harapan baginya.

Ia dengan tegas ingin agar usahanya itu terus berjalan. Terlepas dari ada atau tidaknya dukungan pemerintah, lesunya permintaan, hingga paceklik regenerasi pekerja.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini