Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Berbagi Ingatan Tragedi 65 lewat Lagu hingga Seni

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 29 September 2022 |06:05 WIB
Berbagi Ingatan Tragedi 65 lewat Lagu hingga Seni
Berbagi ingatan tragedi G30S/PKI dalam lagu hingga seni.
A
A
A

LEBIH dari 50 tahun setelah Peristiwa 65 berkecamuk, sejumlah generasi muda menawarkan narasi alternatif sejarah 1965 melalui media sosial dan seni sebagai bentuk 'perlawanan untuk pengungkapan kebenaran'.

Melansir pemberitaan BBC, bayangan sekelompok perempuan muda setengah telanjang tengah menari diiringi lagu Genjer-Genjer di depan para jenderal dalam kegelapan malam masih membekas di benak kebanyakan orang yang menghabiskan masa kecilnya menonton film Pemberontakan G30S/PKI yang ditayangkan tiap tahun di TV pada zaman pemerintahan Soeharto.

Konotasi negatif tentang para perempuan yang dituding terlibat dalam peristiwa yang disebut sebagai Geger 65 itu tak lekang oleh waktu, bahkan setelah Orde Baru lengser pada 1998.

Seperti yang pernah dialami Indraswari Agnes, pekerja industri kreatif berusia 33 tahun yang pernah disebut "Gerwani" oleh rekan kerjanya, hanya karena beda pendapat soal proyek yang mereka garap.

Sebutan itu merujuk pada organisasi perempuan yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan dituding terlibat dalam pembunuhan para jenderal.

"Kenapa sih mesti konotasi yang negatif itu ada di Gerwani? Ini kan hal yang dari zaman saya SD sampai dewasa dijejali cerita kaya gitu, kalau Gerwani itu buruk dan segala macam," tutur Agnes ketika mengawali perbincangan dengan BBC News Indonesia.

Bersama kawan-kawannya, Agnes aktif dalam sejumlah proyek kolektif, Warisan Ingatan dan 1965 Setiap Hari, yang memberi edukasi pada generasi muda dan mengkampanyekan narasi alternatif tentang Peristiwa 65 melalui platform media sosial.

"Makin ke sini, rasanya kawan-kawan muda sudah mulai kritis untuk mengenal atau memahami apa sih yang terjadi di tahun 1965-1966, tragedi kemanusiaan apa sih."

"Ternyata ini bukan sekedar politik doang lho. Ada [sekitar] 500.000, nyaris satu juta, yang dibunuh di masa itu. Terus ada kebohongan yang dibuat selama 30 tahun oleh Soeharto," tuturnya.

Aksi mengampanyekan narasi alternatif sejarah 65 juga digaungkan oleh Dialita, kelompok paduan suara beranggotakan para perempuan penyintas Peristiwa 65. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang dibuat para tahanan politik ketika di balik jeruji besi.

"Kami menyuarakan suara persahabatan dan perdamaian, melakukan perlawanan untuk pengungkapan kebenaran melalui media musik, dan itu diterima oleh banyak orang-orang muda," kata Uchikowati Fauzia, salah satu anggota Dialita yang juga generasi kedua Peristiwa 65.

Kebanyakan dari perempuan yang dituding terlibat dalam Peristiwa 65, ditahan bertahun-tahun tanpa proses pengadilan. Kekerasan menjadi pengalaman yang jamak mereka rasakan.

Setelah pembebasan, mereka harus berjibaku dengan trauma dan stigma akibat stereotip yang disematkan pada mereka oleh penguasa sebagai 'penyiksa para jenderal' dan menggemari 'pergaulan bebas'.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement