Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Berbagi Ingatan Tragedi 65 lewat Lagu hingga Seni

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 29 September 2022 |06:05 WIB
Berbagi Ingatan Tragedi 65 lewat Lagu hingga Seni
Berbagi ingatan tragedi G30S/PKI dalam lagu hingga seni.
A
A
A

Angin segar reformasi

Stigma itu kian langgeng meski Peristiwa 65 sudah berlalu ketika pada era 1980-an, pemerintah Indonesia menugaskan sutradara Arifin C Noer membuat film yang mengisahkan Peristiwa 65 dari kacamata pemerintah.

Film berjudul Pengkhianatan G30S/PKI itu menjadi tontonan wajib semua penduduk Indonesia hingga akhirnya Soeharto lengser pada 1998 dan disusul dengan Reformasi.

"Di situlah saya merasakan reformasi itu sebagai sebuah angin segar. Kenapa? Karena saya dan teman-teman baru [merasa] ini ada sebuah perubahan," ujar Uchikowati ketika ditemui di rumahnya pertengahan Juni silam.

Setelah itu, organisasi yang didirikan oleh para korban atau penyintas 65 bermunculan. Dalam pertemuan sesama penyintas, mereka bertukar pikiran dan pengalaman.

"Ketika kami bercerita, ternyata kami punya pengalaman yang sama, semua isinya stigma, trauma, ya pokoknya penderitaan. Tapi ketika kami bercerita penderitaan itu, saya dan teman-teman tertawa, tapi menangis."

"Ternyata begitu udah ketemu, pulang, kok lega ya. Saya tidak merasa sendiri, tidak merasa paling berat karena ternyata ketika ketemu, 'Oh itu [ada yang] lebih berat lagi'.

Pada 2005, bertepatan dengan 40 tahun Peristiwa 65, generasi kedua dari tragedi itu membuat buku antologi puisi, cerpen dan esai, berjudul 'Tragedi Kemanusiaan 65'.

Dalam buku itu, Uchi menyumbang satu tulisan bertajuk Natal Kelabu.

"Ternyata menulis itu juga menjadi healing untuk kami."

"Dengan berdamai dengan diri sendiri itu membuat saya bisa lebih melihat dengan jernih peristiwa ini, bisa lebih melihat ke depan seperti apa," tutur Uchi.

Bermula dari senandung, lahirlah Dialita

Pertemuan sesama penyintas berlanjut dengan kunjungan ke eks-tapol perempuan yang telah memasuki usia senja.

Untuk membiayai kunjungan itu, kata Uchi, terbesit ide untuk mengumpulkan dan menjual barang-barang bekas.

"Nah ketika sortir itulah kami berkumpul, kami sambil rengeng-rengeng (bersenandung).

"Terus ada yang bilang gini, 'Kenapa kita tidak bikin paduan suara ya'. Paduan suara juga bisa buat ngamen, kita bisa dapat uang, uangnya bisa kita gunakan juga untuk ibu-ibu, untuk biaya-biaya ini." jelas Uchi.

Nama Dialita dipilih setelah salah satu dari mereka mengusulkan nama tersebut, yang berarti "di atas lima puluh tahun".

"Karena waktu itu kami rata-rata kan [berusia] di atas 50 tahun. Terus disetujui, dan jadilah paduan suara Dialita."

Paduan suara beranggotakan para penyintas 65 itu lahir pada 4 Desember 2011.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement