JAKARTA – Tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur merupakan sejarah kelam sepak bola Indonesia. Peristiwa berdarah tersebut menewaskan 131 orang termasuk 2 orang polisi.
Pemerintah pun membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) untuk tragedi Kanjuruhan. Tim ini berisikan sepuluh anggota yang dibentuk pemerintah.
(Baca juga: Daftar 10 Anggota Polri yang Dicopot Usai Tragedi Berdarah di Kanjuruhan)
Kejadian Stadion Kanjuruhan ternyata memiliki banyak kesamaan dengan tragedi-tragedi sebelumnya, tidak hanya soal jumlah korbannya yang besar. Persoalan umum dalam bencana di stadion adalah kegagalan tindakan pengendalian massa untuk melindungi penonton.
Melansir BBC Indonesia, ini 6 peristiwa berdarah lainnya dalam dunia sepak bola.
1. Estadio Nacional, Peru (1964)
Sebanyak 300 orang lebih tewas ketika pertandingan antara Timnas Peru melawan Argentina ricuh setelah gol tim tuan rumah dianulir.
Suporter Peru menyerbu lapangan dalam pertandingan kualifikasi untuk Olimpiade Tokyo 1964 itu, dan polisi meresponsnya dengan menembakkan gas air mata ke kerumunan di Estadio Nacional Lima.
Data resmi korban yang tewas adalah 328, namun jumlah korban secara keseluruhan mungkin lebih tinggi karena angka resmi itu tidak termasuk korban yang tewas tertembak dalam bentrok antara suporter dan aparat keamanan di luar stadion. Jorge Azambuja, komandan polisi yang memerintahkan penembakan gas air mata dijatuhi hukuman 30 bulan penjara.
2. Stadion Olahraga Accra, Ghana (2001)
Satu pertandingan derby antara dua tim yang sangat populer Hearts of Oak dan Asante Kotoko, berujung ricuh pada Mei 2001 setelah suporter Kotoko meluapkan kekecewaan karena tim mereka menelan kekalahan.
Polisi menembakkan gas air mata dan para suporter bergegas ke pintu keluar yang ternyata terkunci. Setidaknya 126 orang tewas dalam insiden tersebut, yang menjadi tragedi sepak bola terburuk di Afrika sampai saat ini.
3. Hillsborough, Inggris (1989)
Tragedi ini adalah salah satu bencana sepak bola terburuk dan paling kontroversial di dunia. Pengelolaan massa yang buruk menjelang pertandingan semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest berujung kematian 96 pendukung Liverpool di Stadion Hillsborough yang dipagari ketat.
Andrew Devine mengalami cidera serius yang mengubah hidupnya dan meninggal pada usia 55 tahun pada 2021. Dia menjadi korban ke-97 dari tragedi itu.
Polisi dan media Inggris mulanya menyalahkan suporter atas insiden itu, menuduh mereka mabuk dan tidak tertib. Namun tuduhan itu dibantah oleh serangkaian penyelidikan selama tiga dekade berikutnya.