Share

Peran Malang dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, dari Zaman Belanda Hingga Jepang

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Rabu 05 Oktober 2022 07:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 04 519 2680464 peran-malang-dalam-perjuangan-kemerdekaan-indonesia-dari-zaman-belanda-hingga-jepang-JRuYlvmpmJ.jpg Bundaran Tugu Malang. (Foto: MPI/Avirista)

JAKARTA - Malang adalah kota besar yang mempunyai peran penting dalam kemerdekaan Indonesia. Dahulu, kota di Provinsi Jawa Timur ini merupakan sebuah kerajaan yang berpusat di wilayah Dinoyo dengan Raja Gajayana. Pada 1767, Malang diduduki oleh kolonial Belanda. Ketika masa penjajahan kolonial Belanda, Malang dijadikan wilayah kota.

Fasilitas direncanakan guna memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Contohnya, Ijen Boulevard dan sekitarnya. Kawasan tersebut hanya bisa dinikmati oleh keluarga Belanda serta bangsa Eropa lainnya. Sementara, pribumi bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. 

Pada 1824, Malang dipimpin oleh oleh seorang Asisten Residen. Kota Malang mulai berkembang dengan pesat pada 1879, seiring dengan mulai beroperasinya kereta api di kota tersebut. Kebutuhan masyarakat semakin meningkat, terutama ruang gerak untuk melakukan berbagai kegiatan. Selain itu, terjadi pula perubahan fungsi lahan dengan pesat, dari fungsi pertanian menjadi industri dan perumahan. Pada 1 April 1914, Malang ditetapkan sebagai Kotapraja. 

Saat Jepang datang menguasai pada 1942, Kota Malang dan sekitarnya diduduki pemerintahan Jepang sejak 7 Maret 1942. Pengambilan alih pemerintahan dari Belanda ke Jepang ini meneruskan sistem yang lama, hanya sebutan dalam jabatan diganti menggunakan bahasa Jepang. Selama penjajahan Jepang yang singkat, Malang berhasil membuat 33 peraturan daerah.

Setelah Indonesia merdeka, Komite Nasional Indonesia (KNI) dibentuk serta mengeluarkan pernyataan bahwa Malang menjadi Daerah Republik Indonesia pada 21 September 1945. Namun, setelah Indonesia merdeka, Belanda berusaha kembali menjajah Malang. Tepat pada 22 Juli 1947, Belanda sudah memasuki wilayah Lawang. Para pemuda di Kota Malang menjalankan strategi dengan menumbangkan pohon besar. Hal ini dilakukan untuk menutup akses jalur di perbatasan kota.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Para pemuda bersama gerilyawan dan tentara Indonesia juga mempunyai strategi lainnya, yaitu membakar bangunan strategis di Kota Malang. Dengan taktik bumi hangus ini, Belanda tentu tidak dapat memanfaatkan bangunan-bangunan di Malang untuk kepentingannya. Untuk menahan pasukan Belanda, taktik pertahanan pun dijalankan dengan menitikberatkan pada sektor timur, tengah, dan barat. Pasukan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) turut dikerahkan. Tak memiliki pengalaman berperang, pasukan pelajar tersebut kewalahan saat Belanda menyerang dan mengepung. Pada pertempuran tersebut, 35 anggota TRIP tewas. Belanda pun dapat menguasai Malang pada 31 Juli 1947.

Pendudukan Belanda di Malang berakhir setelah Perjanjian Renville pada 1948. Peristiwa Malang Bumi Hangus menjadi bukti nyata perjuangan pemuda Kota Malang guna mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini