Share

Kisah Pilu Orangtua Kehilangan Anak Satu-Satunya dalam Tragedi Kanjuruhan

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 05 Oktober 2022 05:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 05 519 2680798 kisah-pilu-orangtua-kehilangan-anak-satu-satunya-dalam-tragedi-kanjuruhan-dmkyRFHkjO.jpg Pintu 13 Stadion Kanjuruhan. (MNC Portal/Avirista Midaada)

MALANG - Aris Budi dan istrinya tak bisa berkata-kata setelah anak semata wayangnya turut menjadi korban jiwa dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Sabtu (1/10/2022). Ia kini tak lagi bisa melihat sikap manja anaknya Riyang Ambarwati (20).

Aris Budi tampak mencoba tegar saat diminta menceritakan kisah anaknya Riya yang menjadi korban jiwa. Pria 42 tahun ini mencoba pasrah dan mengikhlaskan kepergian putri satu-satunya itu.

Ia menuturkan, anaknya sebenarnya sudah biasa menonton pertandingan Arema FC di Stadion Kanjuruhan. Mereka terkadang sengaja tidak mengunci pintu rumah hingga malam hari saat Arema bertanding. Hal ini agar sang anak bisa mudah masuk rumah sepulang menonton Arema.

"Anaknya tidak pernah berbuat aneh-aneh dan memiliki karakter tanggung jawab. Makanya saya enggak pernah melarang dia untuk menyaksikan pertandingan Arema FC, sekalipun pertandingan tersebut berlangsung pada malam hari," kata Aris, ditemui di rumahnya Jalan Sengguruh, Kepanjen, Kabupaten Malang.

Ia menjelaskan, biasanya anak selalu mengabarkan jika pertandingan malam laga itu akan berakhirnya pukul 22.00 WIB. Karena itu, ia meminta izin kedua orang tuanya untuk pulang pukul 00.00 WIB, karena ingin bercengkrama dengan teman-temannya.

"Izin pulang jam 12, ya pulang jam 12 (malam). Itu pun selalu sama. Pamitnya sama, cuma saat ini kondisinya yang tidak sama," ucap Aris.

Aris dan istri tidak menyangka anaknya akan pergi meninggalkannya. Terlebih, dia sempat mengantarkan anaknya di luar stadion sebelum pertandingan. Masih terkenang jelas bagaimana anaknya terlihat ceria dan semangat menonton pertandingan sepak bola.

Aris dan istri menerima informasi, anak semata wayangnya menjadi korban jiwa saat pukul 00.00 WIB, ketika dirinya baru bangun tidur. Semula, Aris menduga anaknya hanya kecelakaan biasa akibat tersenggol.

"Kedengaran saya itu kesenggol jadi mungkin kecelakaan. Mau saya jemput tetapi tidak dibolehkan. Saya disuruh siap-siap di rumah katanya Pak Kades mau ambil (anak). Pas itu saya mikir kok Pak Jamhuri (kepala desa) yang manggil. Ponakan saya suruh cek juga tidak boleh," tutur Aris.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sekitar 20 menit, pintu rumah Aris tiba-tiba terbuka. Bukannya suara jejak kaki anak kandungnya yang terdengar tetapi justru suara keramaian. Dari sinilah, Aris dan istri baru mengetahui bahwa anaknya sudah meninggal. Dia yang baru saja terbangun dari tidurnya dan tak tahu kejadian di Stadion Kanjuruhan hanya mampu terpaku melihat anaknya meninggal.

Menurut Aris dan Kariyah, jenazah anaknya memang tidak sempat dibawa ke rumah sakit. Almarhum yang sudah meninggal di tempat langsung dibawa oleh kepala desa ke rumahnya. Pada saat tiba di rumah, mereka bisa melihat bagaimana sang anak terbujur kaku dengan wajah dan leher terlihat membiru akibat gas air mata.

Akibat kejadian ini, Aris dan Kariyah harus kehilangan anak satu-satunya. Sebelumnya, mereka sudah kehilangan anak pertamanya pada 2013. Namun kini dia harus kembali kehilangan anak terakhirnya yang begitu disayangi.

Aris berharap peristiwa ini menjadi yang terakhir di manapun berada. Dia juga meminta petugas kemanan untuk seharusnya melindungi penonton. Bukan menjadi pemicu tragedi yang menyebabkan ratusan orang meninggal dunia. Ia meyakini penyebab kematian para korban karena gas air mata. Informasi ini sudah bukan rahasia lagi di masyarakat umum.

"Jelas saya kecewa. Masalahnya itu bukan orang demo. Mereka melakukan kesalahan apa? Melakukan kerusakan apa? Tidak ada kan?" jelasnya.

Saat ini, Aris hanya bisa ikhlas dan pasrah menerima kehilangan tersebut. Dia juga tak memiliki keinginan untuk melaporkan tersebut ke posko pengaduan. Aris mengaku tidak mengenal hukum dan khawatir memperuncing masalah.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini