TRAGEDI Kanjuruhan, Malang yang terjadi pada Sabtu 1 Oktober 2022 menjadi duka untuk Indonesia. Peristiwa memilukan ini menelan korban jiwa hingga 131 orang.
Mereka yang menjadi korban tidak terbatas usia. Bahkan, ada balita yang ikut kehilangan nyawanya. Paling tidak, ada lebih dari 32 anak-anak menjadi korban Tragedi Kanjuruhan ini.
Angka kekalahan Arema Malang 2-3 dari Persebaya Surabaya pun tampak tidak bermakna dibalik banyaknya korban jiwa yang berjatuhan tersebut.

Kapolri dan Panglima TNI saat berkunjung ke Stadion Kanjuruhan.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sudah mengambil langkah tegas atas peristiwa ini. Pada Kamis 6 Oktober 2022, sudah ada 6 orang ditetapkan menjadi tersangka.
Mereka yang ditetapkan sebagai tersangka adalah sosok yang berperan secara langsung dan tidak langsung yang menyebabkan terjadinya tragedi yang menjadi sorotan dunia ini.
Keenam tersangka itu adalah Direktur PT Liga Indonesia Baru (LIB) Ir. Ahmad Hadian Lukit, Abdul Harris selaku Ketua Panitia Pelaksana pertandingan, Suko Sutrisno selaku security officer, Wahyu Setyo selaku Kabag Ops Polres Malang, H dari Brimob Polda Jatim dan Bambang Sidiq Achmadi selaku Kasat Samapta Polres Malang.
Enam tersangka dinilai memiliki peran yang menyebabkan terjadinya tragedi yang menjadi nokta merah di olahraga sepakbola terebut.
Ir. Ahmad Hadian Lukit dianggap bertanggung jawab memastikan setiap stadion memiliki sertifikasi yang layak fungsi. Namun, verifikasi Stadion Kanjuruhan nyatanya terakhir dilakukan pada 2020.
Abdul Harris dianggap bertanggung jawab selaku ketua panitia pelaksana pertandingan dan dijerat pasal 359 dan dan 360 KUHP. Ia juga dijerat Pasal 103 Juncto Pasal 52 UU Nomor 11 tahun 2022 Tentang Keolahragaan.
"Pelaksana dan koordinator penyelenggara pertandingan yang bertanggung jawab pada LIB di situ disebutkan pada pasal 3, panpel bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kejadian," ungkap Kapolri.
Suko Sutrisno selaku security officer, dikenakan pasal yang sama dengan Abdul Harris. Suko dianggap tidak membuat dokumen penilaian risiko meski dia memiliki tugas melakukannya untuk semua pertandingan.
Wahyu Setyo selaku Kabag Ops Polres Malang membiarkan penggunaan gas air mata saat pengamanan meski mengetahui adanya aturan FIFA tentang pelarangan penggunaan gas air mata.
H yang merupakan Danki 3 Brimob Polda Jatim dinilai bertanggung jawab memerintahkan anggotanya untuk melakukan penembakan gas air mata. Bambang Sidiq Achmadi selaku Kasat Samapta Polres Malang juga dianggap bertanggung jawab karena alasan yang sama.
Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan bahwa tidak adanya perwakilan PSSI dalam daftar tersangka dikarenakan badan sepakbola Indonesia itu sulit ‘disentuh’ lantaran terikat dengan aturan FIFA. Namun demikian, Mahfud mengatakan TGIPF akan bekerja semaksimal mungkin mengungkap Tragedi Kanjuruhan.
Alasan Suporter Turun ke Lapangan
Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Drajat Tri Kartono mengatakan jika kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan adalah bentuk kekecewaan suporter atas kekalahan Arema FC atas Persebaya.
Kericuhan suporter di Stadion Kanjuruhan, kata dia, tidak lepas dari fanatisme. Drajat menjelaskan, fanatisme berpeluang semakin menjadi-jadi apabila dipengaruhi oleh kompetisi dengan kelompok lain. Jadi, muncul dorongan untuk memperjuangkan kelompoknya sendiri terhadap kelompok lain.
Fanatisme yang sejatinya masih memiliki dampak positif pun aksinya membawa kerugian karena memicu orang-orang untuk bersikap tidak toleran. Dan berkurangnya rasa toleransi karena fanatisme merupakan hal yang otomatis terjadi.
Munculnya sikap tidak toleran terhadap orang-orang di luar kelompok karena fanatisme juga mendorong perilaku irasional.
"Jadi, kejadian yang di Malang itu memang ada beberapa dimensi. Bahwa kejadian itu menjadi kacau balau, 'kan ada orang banyak," kata Drajat.

Situasi suporter Arema turun ke lapangan pada 1 Oktober 2022. (Foto: Avirista M/MPI)
Suporter atau fans sebenarnya organ yang tidak terpisahkan dalam dunia sepak bola. Dosen Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Dr. Hery Wibowo, M.Si. menjelaskan, suporter suatu klub sepakbola merupakan identitas sosial yang membanggakan dan mampu meningkatkan citra diri.
Dia menjelaskan, menjadi suporter seperti menjadi identitas sosial yang mampu meningkatkan status atau bahkan harga diri dalam konteks kehidupan bermasyarakat.
"Dari anggota masyarakat yang ‘bukan siapa-siapa’, seseorang dapat merasa menjadi ‘seseorang, atau warga negara berstatus menengah’ dengan menjadi supporter aktif (fanbase) dari klub tertentu,” kata Hery.
Hal ini yang membuat militansi suporter sangat terlihat ketika klub idolanya akan bertanding. Terlebih suporter seperti memuaskan 'dahaga' untuk menyaksikan langsung, setelah sebelumnya tidak ada pertandingan yang dibolehkan ditonton langsung akibat pandemi Covid-19.
Hery lalu menyoroti perilaku crowd (Crowd Behavior). Perilaku ini merupakan fenomena ketika sejumlah orang yang berkumpul dalam suatu kerumunan khusus akan berpotensi menghasilkan perilaku yang tidak akan terjadi pada situasi normal.
Sebuah teori klasik dikemukakan oleh seorang dokter asal Prancis bernama LeBon. Tingkah laku kolektif memiliki ciri-ciri yang sangat berbeda dari tingkah laku individu. Tingkah laku ini yang oleh LeBon disebut Crowd. Ciri-cirinya adalah sangat emosional, irasional dan spontan.
Ada penularan emosi di antara individu dalam kelompok, sehingga sikap, perasaan, dan tingkah lakunya tampak sama dan seragam.
Fenomana ini membuat memicu perilaku individu berubah menjadi perilaku kolektif. Individu dalam crowd behavior akan memiliki keberanian semu yang mampu memicu keberanian kolektif lainnya. Seorang individu akan merasa sangat berani dan kuat (powerfull), merasa benar, dan tanpa ragu melakukan suatu tindakan.
Akibatnya, dalam konteks Tragedi Kanjuruhan, dalam suasana yang emosional, ketika ada suporter yang turun ke lapangan, suporter lainnya spontan ikut turun, paling tidak mereka ingin meluapkan emosinya.
Kalahnya Arema dari Persebaya ini menjadi pemicu perilaku crowd. Ini yang membuat para suporter berbondong-bondong turun ke lapangan.
Hery mengibaratkan fenomena ini seperti bagian tubuh yang lengkap, jika ujung jari terasa sakit, maka dirasakan oleh seluruh anggota badan yang lainnya.
Rasa fanatisme ini yang menjadi crowd dan membuat para suporter turun langsung ke lapangan. Walau suporter ini turun ke lapangan untuk memberikan suporter Arema kepada para pemain dengan cara menyampaikan langsung dukungannya untuk tidak bersedih atas kekalahannya. Dukungan ini juga diwujudkan para suporter dengan bentuk fisik, yakni dengan memeluk para pemain.
Tetapi, apakah benar jika fanatisme ini menjadi penyebab Tragedi Kanjuruhan?
Komnas HAM
Komnas HAM menyatakan, berdasarkan investigasi terkait Tragedi Kanjuruhan yang dilakukan, penyebab meninggalnya para Aremania (sebutan untuk pendukung kesebelasan Arema FC) adalah efek dari gas air mata.
"Kondisi jenazahnya sendiri secara fisik, ada beberapa yang sangat-sangat memprihatinkan dan ini menunjukkan sebenarnya kurang lebih menjadi potensi penyebab kematian," ucap Komisioner Komnas HAM Choirul Anam dalam video berjudul 'Update Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM atas Peristiwa Kemanusiaan Stadion Kanjuruhan', Rabu 5 Oktober 2022).
Laporan Komnas HAM menguak jika kerusuhan tidak ditimbulkan karena suporter yang masuk ke lapangan. Choirul Anam menjelaskan, dua orang suporter turun dari tribune di bawah papan skor usai pertandingan pekan ke-11 Liga 1 2022-2023 antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya tersebut.
Setelah peluit ditiup wasit tanda berhentinya pertandingan di malam Minggu itu, ada dua orang supporter Arema, yang bisa dikenal sebagai Aremania, turun ke lapangan Stadion Kanjuruhan.

Suasana Stadion Kanjuruhan saat terjadi tragedi 1 Oktober 2022. (Foto: Avirista M/MPI)
Video yang diunggah akun Twitter @dede_dedot96, kedua orang Aremania itu tampaknya tidak bermaksud negatif. Mereka tampaknya ingin memberi dukungan, termasuk dengan memmberikan pelukan kepada dua pemain asing Arema FC, Sergio Silva dan Adilson Maringa.
Setelah itu, ratusan atau bahkan ribuan Aremania turun ke lapangan Stadion Kanjuruhan. Hal ini berujung kepada kerusuhan dan aparat yang akhirnya menembakan gas air mata, membuat para supporter berdesakan ingin keluar stadion.
Hal ini yang membuat aparat keamanan meningkatkan penanganan. Awalnya aparat hanya mengamankan beberapa suporter yang masuk tetapi kemudian gas air mata ditembakan. Choirul Anam menyebut bahwa situasi tidak langsung rusuh saat suporter masuk ke lapangan. Dia mengece suporter yang turun ke lapangan dan para pemain Arema FC.
"Kalau ada yang bilang eskalasi penangan itu timbu karena ruporter merangsek masuk ke dalam lapangan, sampai sore ini, kami mendapat informasi bahwa tidak begitu kejadiannya," kata dia.
Berdasarkan penelusurannya, dirinya mendapati bahwa tidak ada niat sama sekali dari suporter untuk membuat suasana jadi rusuh. Suporter yang awalnya turun ke lapangan itu hanya ingin memberikan semangat kepada para pemain yang baru saja menelan kekalahan. Hal itu dibuktikan oleh para pemain yang tidak mendapatkan luka atau perlakuan tidak mengenakkan dari suporter
Solusinya?
Dr. Hery Wibowo, M.Si menyebut, potensi crowd behavior seharusnya perlu diredam sedini mungkin dengan tata kelola ataupun manajemen pertandingan yang baik. Tetapi, dia menggarisbawahi bahwa antisipasi yang dilakukan bukan berarti harus secara anarkis.
Selain itu, sistem pertandingan lapangan, baik penyelenggara, pemain, dan pengadil harus menjunjung tinggi sportivitas. Penegakan sportivitas dan penyelenggaraan pertandingan yang baik diharapkan dapat menularkan semangat sportivitas ke suporter.
“Penonton wajib terus diedukasi untuk menerima ‘kemenangan dan kekalahan’. Pertandingan yang berjalan sportif, akan dapat diterima baik oleh pendukung tim yang menang ataupun yang kalah,” kata Hery.
BACA JUGA:Temuan Polri di Balik Status Tersangka Dirut PT LIB dalam Tragedi Kanjuruhan
BACA JUGA:Komnas HAM Pastikan Tak Ada Pemain Arema dan Persebaya yang Terluka di Tragedi Kanjuruhan

Sementara itu, Dr. Drajat Tri Kartono menyebutkan jika fanatisme yang ditunjukkan suporter di Stadion Kanjuruhan Malang biasa terjadi dalam dunia sepakbola. Bahkan, fanatisme yang hampir mirip dialami oleh beberapa kelompok pehobi, baik itu kelompk kendaraan bermotor dan silat.
Dia memberikan peringatan risiko akan bahaya apabila fanatisme yang berlebihan tidak dikelola dengan baik. Menurutnya, ada dua faktor yang menyebabkan fanatisme membawa kerugian, yakni gagalnya pengorganisasian dan edukasi.
"Ini sebenarnya pelajaran bagaimana mengorganisir in group feeling agar mereka punya saluran. Karena (fanatisme) itu pasti tersalurkan," kata Drajat.
Menurutnya, supaya fanatisme tidak membawa kerugian termasuk dalam pertandingan sepakbola, Drajat menyarankan agar hierarki kelompok yang besar diorganisir dengan baik.
Selain itu, tidak kalah pentingnya adalah membangun pendidikan di in group feeling agar anggotanya memiliki berbagai alternatiif kegiatan. "Jadi, harus diajak ke kegiatan-kegiatan lain, seperti membantu penanganan bencana alam," ungkap Drajat.
(Widi Agustian)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.