Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Para Pekerja yang Meninggalkan Pekerjaan Impian Demi Kenyamanan Hidup

Susi Susanti , Jurnalis-Senin, 31 Oktober 2022 |12:31 WIB
Cerita Para Pekerja yang Meninggalkan Pekerjaan Impian Demi Kenyamanan Hidup
Ilustrasi pekerjaan impian (Foto: Reuters/seekajob.in)
A
A
A

Di usianya yang ke-26 tahun, dia adalah seorang mahasiswa, kali ini dengan jurusan pengembangan perangkat lunak selama empat tahun. Dia menjauh, tidak hanya dari pekerjaan yang telah dia kerjakan dengan sangat keras, tetapi juga dari seluruh industri perhotelan.

Bagi Andrew, titik kritisnya datang setelah dia mendapatkan tempat yang paling bersinar yang selama ini dia inginkan. Dia menyadari tidak ada pekerjaan melelahkan yang diperlukan yang sepadan.

“Sejak usia 19 hingga 25 tahun, dalam seluruh periode hidup saya, saya seperti dikorbankan,” katanya.

"Semua orang keluar bersenang-senang dan saya pada dasarnya adalah seorang budak di dapur,” lanjutnya.

Sepanjang kariernya, Andrew merasa terlalu banyak bekerja, kurang dihargai, dan dibayar rendah.

“Saya bekerja antara 65 hingga 70 jam seminggu dan dibayar [gaji] 20.000 poundsterling (sekitar Rp353 juta) setahun,” jelasnya.

“Saya bertugas di bagian pembuatan pastry. Saya membuat sebagian besar makanan penutup seharga 5,95 poundsterling (Rp105 ribu) per jam. Untuk jumlah uang yang sesedikit itu, Anda pasti berpikir, apa yang bisa saya lakukan dalam hidup ini? Apakah saya sudah gila?,” ungkapnya.

Sebagian besar pekerja selalu mengharapkan peran yang sesuai dengan minat dan hasrat mereka, misalnya menukar pekerjaan kantor dengan toko roti yang diidam-idamkan, atau peran menyenangkan di perusahaan video game, terdengar seperti hal yang mudah.

Namun, narasi 'lakukan apa yang Anda sukai' ini memiliki kekurangan. Banyak orang menemukan bahwa pekerjaan impian mereka membutuhkan lebih banyak usaha, bahkan dalam kondisi yang lebih buruk.

Sementara yang lain menemukan bahwa industri yang mereka idolakan ternyata memperdagangkan renjana pekerja agar bisa tetap membayar upah yang rendah. Dalam menghadapi tekanan ini, beberapa pekerja mendapati diri mereka bertanya-tanya: apakah pekerjaan impian itu benar-benar sepadan?

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement