Selain meminta bantuan solusi terkait kendala tata air yang terjadi di lapangan, kata Hartoyo, petani juga berharap pemerintah melalui Kementerian Pertanian menghadirkan penyuluh yang mempraktikkan teori di lapangan secara langsung dan datang rutin di wilayahnya.
Selama dua tahun food estate berjalan, pendampingan maupun penyuluh tidak selalu rutin hadir. “Petani tahunya cuma di sawah. Kita perlu diberi ilmu dan masukan, supaya hasil bisa meningkat lagi,” kata dia.
Di sisi lain, meski masih ditemukan beberapa kendala dalam pelaksanaan program food estate di Kalimantan Tengah, KTNA memastikan program tersebut akan terus dilanjutkan pemerintah.
“Enggak apa sih kalau ada orang kritik (berhentikan food estate) seperti itu. Mereka juga argumentasi yang baik. Tetapi bagi KTNA, Food Estate Kalteng itu sangat penting untuk menutup kehilangan fungsi lahan yang tiap tahun terjadi,” tutur Sofyan.
(Karina Asta Widara )