Share

Pendidikan Untuk Generasi Muda Papua Cerdas

Karina Asta Widara , Okezone · Jum'at 25 November 2022 19:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 25 1 2714973 pendidikan-untuk-generasi-muda-papua-cerdas-HUvgoBt6ol.JPG Foto: Dok TV Solo

YOGYAKARTA - Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) menggelar sosialisasi percepatan pembangunan kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Melalui dialog interaktif di media televisi dan radio, Kemkominfo menghadirkan dialog interaktif bertajuk “Pendidikan Untuk Generasi Muda Papua Cerdas” pada Selasa, 22 November 2022, pukul 19.30 - 20.30 WIB.

Berlangsung di Studio TATV, Jl. Gajah Mada No.52, Purwokinanti, Pakualaman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55151, dialog interaktif tersebut menghadirkan sejumlah mahasiswa asli Papua, Pembina Griya Sekaraji Yogyakarta, Amiruddin dan Ketua Komunitas Mahasiwa Papua Soloraya , Moses Ferdinan Kamer.

Dipandu Rika Anggita selaku host, dialog interaktif ini juga tayang secara live di kanal YouTube SangajiTV, Kemkominfo TV, YouTube DJIKP, dan YouTube TATV. Dialog interaktif ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, wawasan, dukungan dan partisipasi audiens tentang perkembangan pembangunan sumber daya manusia Papua, terutama di bidang pendidikan.

Upaya memajukan pendidikan di Papua saat ini masih terus dilakukan pemerintah, seperti mendukung kegiatan Griya Sekaraji yang menjadi rumah belajar inklusif di mana sebagian besar berasal dari Papua di Yogyakarta dan Komunitas Kompas dari Soloraya.

“Giya Sekar Aji ini baru berdiri tahun 2020 yang merupakan ikhtiar dari almarhum Bapak Bambang Purwoko yang saat itu menjadi dosen FISIP UGM yang serius memerhatikan pendidikan di Papua. Minimal bisa mengejar ketertinggalan yang ada selama ini,” kata Amirudin.

Awalnya, kata Amirudin, pihaknya menampung 40 mahasiswa dari Papua terlebih dahulu karena mengalami kesulitan mencari tempat tinggal. Hal itu tak lepas dari stigma negatif sejumlah warga di Yogyakarta terhadap warga Papua. Seiring dengan perkembangan waktu, akhirnya didirikanlah Griya Sekaraji yang menampung para pencari ilmu ini.

Mengejar Ketertinggalan

Namun, Griya Sekaraji tidak sendiri, pihaknya juga didukung Gugus Tugas Papua dari kampus UGM (Universitas Gajah Mada). Dukungan itu berupa pendampingan akademis serta non akademis terhadap para mahasiswa di Griya Sekaraji.

Pendampingan tersebut bertujuan mengejar ketertinggalan para mahasiswa asal Papua. Hal itu mengingat saat itu masih adanya ketimpangan akademis antara Papua dengan Yogyakarta.

“Pendampingan non akademik oleh para peneliti Gugus Tugas Papua. Seperti masalah pribadi dan masalah keluarga, itu ada pendampingnya. Itu salah satu upaya membantu para mahasiswa asal Papua supaya dapat beradaptasi dengan lingkungan,” ujar Amirudin.

Dampak dari upaya pendampingan itu dirasakan oleh Janius Tabuni yang sudah menempuh Pendidikan di Yogyakarta sejak SMA. Semangat dan minat belajar warga Papua sangat tinggi tetapi tak sebanding dengan ketersediaan sarana dan fasilitas. Dirinya mengaku bersyukur bahwa saat ini ia berkesempatan belajar dan mendapatkan fasilitas pendidikan guna mengejar ketertinggalan.

“Ya, saya boleh dibilang bersyukur karena kami dapat belajar mengejar ketertinggalan itu,” kata Janius.

Sementara itu mahasiswi Joice mengatakan bahwa ia berharap suatu saat ia akan mengembangkan dunia Pendidikan di Papua.

“Mungkin berbagi ilmu terlebih dahulu untuk warga Papua,” kata Paulina Conella Kohome, mahasiswi FISIP UGM.

Butuh proses panjang untuk meningkatkan kemajuan pendidikan di Papua. “Semboyan yang diungkapkan oleh Nelson Mandela bahwa pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia. Sebagaimana pendidikan di Papua, melalui Pendidikan itulah dapat mengubah Papua untuk lenbih maju,” kata Amirudin.

Menurut Amirudin, pemerintah pusat dan daerah saat ini punya komitmen terhadap pendidikan di Papua. Terbaru, pemerintah membuat badan untuk percepatan Papua yang diketahui Wapres, KH Maaruf Amin, salah satunya melalui pendidikan.

Namun, pihaknya berharap pemerintah tidak hanya memberikan beasiswa tetapi juga memberikan fasilitas pendampingan.

“Harus dilakukan juga pola pengasuhan dan pendampingan. Nah, ini yang belum. Hal ini terkait untuk masalah keselarasan pencapaian pembentukan mental. Kemudian pendampingan terkait masalah sosial supaya mudah beradaptasi. Ada juga pendampingan spiritual. Di Griya Sekaraji sudah ada ibadah yang dilakukan secara bersama seperti wisata rohani sebelum ujian,” kata Amirudin.

Upaya kemajuan pendidikan di Papua juga dilakukan komunitas Kompas (Komunitas Mahasiswa Mahasiswi Soloraya) melalui dukungan dari pemerintah Kota Surakarta. Salah satunya adalah fasilitas sekretariat, selain asrama yang disediakan sejumlah perguruan tinggi di Soloraya.

“Kami masih berupaya juga bekerjasama dengan Pak Walikota (Gibran Rakabumingraka) untuk mengupayakan pendampingan-pendampingan pelatihan buat para warga Papua di komunitas kami,” pungkas Moses.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

(Wid)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini