Share

Surat Tablet Tanah Liat pada 1870 SM Ungkap Keterlibatan Perempuan Dalam Perdagangan Kuno

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 02 Desember 2022 06:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 01 18 2718927 surat-tablet-tanah-liat-pada-1870-sm-ungkap-keterlibatan-perempuan-dalam-perdagangan-kuno-jtbpP1Aweu.jpg Tablet Surat Tanah Liat pada ribuan tahun lalu (foto: dok BBC)

SEKITAR 1870 SM, di kota Assur yang terletak di utara Irak, seorang perempuan bernama Ahaha mengungkap kasus penipuan keuangan. Ahaha telah berinvestasi dalam perdagangan jarak jauh antara Assur dan kota Kanesh di Turki.

Ahaha dan mitra investornya mengumpulkan perak untuk membiayai karavan keledai yang mengirimkan timah dan tekstil ke Kanesh, di mana barang-barang itu akan dibarter dengan lebih banyak perak, menghasilkan keuntungan yang lumayan.

Akan tetapi, Ahaha tak menerima keuntungan yang semestinya ia dapatkan, kemungkinan karena digelapkan oleh salah satu saudara laki-lakinya, Buzazu. Jadi, ia mengambil pena dan tablet yang terbuat dari tanah liat, kemudian menulis sebuah surat kepada saudara laki-lakinya yang lain, Assur-mutappil, dan meminta bantuan.

"Saya tak punya apa-apa selain dana ini," tulisnya dalam aksara paku, seperti dilansir dari BBC Indonesia.

 BACA JUGA:Penemuan Gigi Ikan Purba Usia 780.000 Tahun Ungkap Tanda Awal Zaman Memasak

"Berhati-hatilah bertindak supaya saya tidak hancur!"

Ahha pun meminta Assur-mutappil mendapatkan kembali peraknya dan membalas suratnya.

"Biarkan suratmu datang pada saya dalam karavan berikutnya, dan menjelaskan apakah mereka membayarkan peraknya," tulisnya di tablet lain.

"Sekarang adalah waktu untuk membantu saya dan menyelamatkan saya dari tekanan finansial!"

 BACA JUGA:Sejarah Penemuan Fitur Copy Paste yang Masih Digunakan Sampai Sekarang

Surat Ahaha adalah salah satu di antara 23.000 tablet tanah liat yang ditemukan dalam penggalian selama beberapa dekade terakhir di reruntuhan pemukiman pedagang di Kanesh.

Puluhan ribu tablet itu dimiliki oleh ekspatriat dari Asiria yang telah lama menetap di Kanesh dan terus melakukan korespondensi dengan keluarga mereka di Assur, yang berjarak enam pekan perjalanan menggunakan karavan keledai.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Sebuah buku yang baru saja diterbitkan memberikan wawasan baru tentang kelompok yang luar biasa dalam komunitas ini: perempuan yang mengambil peluang dari perubahan sosial dan ekonomi yang kala itu baru saja terjadi, dan mengambil peran yang biasanya oleh para pria.

Para perempuan ini menjadi pengusaha, bankir dan investor perempuan pertama dalam sejarah umat manusia.

'Kuat dan mandiri'

Sebagian besar tablet tanah liat yang ditemukan di Kanesh merupakan surat, kontrak, dan putusan pengadilan.

Tablet itu diperkirakan berasal dari sekitar 1900 - 1850 SM, periode ketika jaringan perdagangan Assur berkembang pesat, yang berdampak pada kemakmuran di wilayah tersebut dan munculnya banyak inovasi.

Orang Asiria menemukan bentuk-bentuk investasi tertentu dan merupakan orang pertama yang menulis surat mereka sendiri, tanpa mendiktekannya pada penulis profesional.

Berkat surat-surat ini berusia puluhan abad ini, kita bisa mendengar suara perempuan yang bersemangat, yang memberi tahu kita bahwa bahkan di masa lalu, perdagangan dan inovasi bukanlah domain ekslusif pria.

Ketika suami mereka sedang dalam perjalanan, atau melakukan transaksi di beberapa pemukiman perdagangan yang jauh, para perempuan menjalankan bisnis mereka di rumah.

Di samping itu, mereka juga mengumpulkan dan mengelola kekayaan mereka sendiri, dan secara bertahap memperoleh lebih banyak kedaulatan dalam kehidupan pribadi mereka.

"Para perempuan ini sangat kuat dan independen. Oleh karena mereka sendirian, mereka menjadi kepala keluarga ketika suami mereka tak ada di rumah," ujar Cécile Michel, peneliti senior di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional (CNRS) di Prancis, yang juga penulis dari buku berjudul Women of Assur and Kanesh.

Melalui lebih dari 300 surat dan dokumen lain, buku itu menuturkan kisah yang sangat rinci dan penuh warna tentang perjuangan dan kemenangan perempuan.

Meski penuh drama dan petualangan, tablet tanah liat itu sendiri berukuran kecil, seukuran telapak tangan.

Kisah para pedagang perempuan ini berkaitan dengan komunitas pedagang Asiria secara keseluruhan.

Di masa kejayaan mereka, orang Asiria termasuk di antara pedagang paling sukses dan memiliki jaringan yang baik di Timur Dekat.

Rombongan karavan mereka yang terdiri dari hingga 300 keledai melintasi pegunungan dan dataran tak berpenghuni, membawa bahan mentah, barang mewah dan, tentu saja, surat yang terbuat dari tanah liat.

"Itu adalah salah satu bagian dari jaringan internasional yang besar, yang dimulai di suatu tempat di Asia Tengah, dengan batu lapis-lazuli dari Afghanistan, batu akik dari Pakistan, dan timah yang mungkin berasal dari Iran atau lebih jauh ke timur," ujar Jan Gerrit Dercksen, pakar tentang Asiria di Leiden University di Belanda, yang juga meneliti tablet Kanesh.

Pedagang asing membawa barang-barang ini ke Assur, bersama dengan tekstil dari Babilonia di Irak Selatan.

Barang-barng itu kemudian dijual pada orang-orang Asiria, yang kemudian mengemaskan ke karavan menuju Kanesh dan kota-kota lain di wilayah Anatolia di Turki, dan menukarnya dengan emas dan perak.

Instrumen keuangan yang kompleks memfasilitasi perdagangan ini, salah satunya apa yang disebut sebagai "naruqqum", yang secara harafiah bermakna "tas".

Istilah itu mengacu pada perusahaan saham gabungan, di mana investor Asiria mengumpulkan perak mereka untuk mendanai karavan yang digunakan pedagang selama bertahan-tahun.

Para pedagang juga mengembangkan jargon bisnis, seperti "Tablet sudah mati", yang berarti utang telah dilunasi dan pencatatan kontrak dalam tablet dibatalkan.

Sedangkan jargon "perak yang lapar" merujuk pada perak yang tidak diinvestasikan dan menganggur, alih-alih menghasilkan keuntungan.

Perempuan Asiria berkontribusi pada jaringan komersial yang ramai ini dengan memproduksi tekstil untuk ekspor, memberikan pinjaman pada pedagangan, membeli dan menjual rumah, dan berinvestasi dalam skema naruqqum.

Keterampilan mereka sebagai penenun memungkinkan mereka mendapatkan perak sendiri. Mereka terus memantau mode dan tren pasar di luar negeri untuk mendapatkan harga terbaik, serta pajak dan biaya lain yang mempengaruhi keuntungan mereka.

"Mereka benar-benar akuntan. Mereka tahu betul apa yang harus mereka dapatkan sebagai imbalan atas tekstil mereka.

"Dan ketika mereka mendapatkan uang ini dari penjualan tekstil mereka, mereka membayar untuk makanan, rumah, dan kebutuhan sehari-hari, tapi mereka juga berinvestasi," ujar Michel, yang juga turut membuat film dokumenter baru tentang perempuan

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini