Share

Ayah Korban Tragedi Kanjuruhan: Seperti Bharada Menyidik Jenderal!

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 01 Desember 2022 08:22 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 01 519 2718292 ayah-korban-tragedi-kanjuruhan-seperti-bharada-menyidik-jenderal-hc6eJqd3s6.jpg Ilustrasi (Foto : iNews)

MALANG – Keluarga korban tragedi Kanjuruhan Polres Malang segera memproses laporan hukum yang dilayangkan. Hal ini demi mencari keadilan di tengah kurang maksimalnya penanganan tragedi Kanjuruhan ini, pasca hasil autopsi disampaikan tim dokter forensik.

“Saya menanyakan tentang proses ini, mohon kepada pak polisi agar proses ini bisa segera dilaksanakan perkara pelaporan saya sama Pak Imam sama LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) tentang model B,” kata Devi Athok Yulfitri, ayah korban tragedi Kanjuruhan yang mengajukan autopsi, saat dikonfirmasi Kamis (1/12/2022) di Malang.

Sejauh ini, laporan yang dilayangkan pada Rabu 9 November 2022, belum ada tindak lanjut dengan alasan adanya pergantian jabatan Kasatreskrim. Menurut pria 43 tahun ini laporan itu memang sulit diproses, sebab pihak–pihak yang dilaporkan merupakan para petinggi yang memiliki jabatan dan kewenangan di atas Polres Malang.

“Mungkin ini sekelas bharada untuk menyidik jenderal, sepertinya mustahil. Tapi kalau memang anggota kepolisian mau membenahi institusinya, inilah mungkin momen yang terbaik untuk melaksanakan tri barata mereka, mengayomi, melindungi, melayani masyarakat, biar masyarakat Malang khususnya, dan Aremania hidup damai lagi di bumi Malang, dan mungkin tidak terjadi di kota-kota lain,” jelasnya.

Sedangkan Imam Hidayat, kuasa hukum Devi Athok menegaskan pentingnya kepolisian bersikap profesional dan membuktikan kapasitas kemampuannya pasca kasus Sambo dan dugaan penggunaan narkoba ke Irjen Teddy Minahasa muncul.

“Polri ini kan terikat dengan sumpah tribarata, melayani, melindungi, mengayomi, kita ini inline karena kita ini korban, maka diwakilkan oleh negara, siapa negara itu Polri dan Kejaksaan di tingkat persidangan. Tapi kenapa korban ini mencari keadilan ini begitu berliku-liku,” paparnya.

Dirinya mengingatkan agar pihak – pihak yang memanfaatkan tragedi Kanjuruhan untuk kepentingan pribadi, golongan, terlebih kepentingan politik agar berpikir ulang. Apalagi dengan merekayasa proses hukum demi kepentingan–kepentingan tersebut.

“Padahal kita mulai awal percaya, kita berharap kejujuran, sumpah jabatan dan yang paling akhir adalah keadilan di akhirat itu yang paling penting. Karena kita pada saatnya semua akan meninggal, tolong untuk tragedi Kanjuruhan ini kejujuran diutamakan, keadilan diutamakan, yang lain silakan itu bukan urusan kita,” jelasnya.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Sebagaimana diberitakan sebelumnya tim dokter forensik mengumuman hasil autopsi dua korban jenazah tragedi Kanjuruhan pada Rabu di Surabaya. Pada pengumuman hasil autopsi kedua jenazah itu dijelaskan jenazah NDR dan NDA mengalami patah tulang iga dan pendarahan dalam kategori yang banyak.

Hasil ini merupakan pemeriksaan tim dokter forensik yang melakukan autopsi pada Sabtu 5 November 2022, kepada kakak beradik berinisial NDR (16) dan NDA (14) keduanya warga RT 1 RW 1 Desa Krebet Senggrong, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

Proses autopsi dilakukan di pemakaman Dusun Patuk Baran, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Autopsi dilakukan oleh enam orang dokter forensik dari PDFI Jawa Timur dengan pengawalan ketat petugas kepolisian dari Polres Malang yang berjaga.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini