Kelezatan dan kelembutan lapis legit hasil buatan Ollyvia ternyata tak hanya berhasil menarik perhatian diaspora Indonesia yang rindu akan kue tradisional Indonesia ini, namun juga warga keturunan Singapura, Malaysia, bahkan Belanda.
“Jadi banyak nenek-nenek yang dulu lahirnya di Indonesia, tapi sudah pindah ke Holland dan juga immigrate lagi ke (Amerika Serikat). Mereka punya kenangan, ‘oh, dulu mama saya pernah bikin lapis legit,’ tapi dia enggak pernah ketemu lapis legit di mana pun, sampai mereka menemukan aku,” kata Ollyvia.
Menurut Ollyvia, rasa ‘jadul’ yang dihadirkan lewat resep neneknya sangat penting, karena dapat memberikan rasa nostalgia yang berasal dari masa kecil seseorang.
“Kalau aku enggak pakai resep yang dari nenek dan aku ubah, mungkin rasanya tidak akan sama,” tambahnya.
Walau banyak yang mengincar, bagi Ollyvia tantangan untuk bisa menembus pasar lokal Amerika tetap ada, mengingat harga kuenya yang mahal.
“Kalau untuk orang lokal (Amerika), mereka enggak ngerti, ‘oh, ini kue kenapa mahal banget.’ Tapi kalau misalnya jual ke orang Indonesia atau orang Singapura yang ngerti, ‘oh kue lapis itu mahal gara-gara (proses pembuatannya memakan banyak waktu) dan juga bahan-bahannya premium. Kayak telurnya banyak, (menteganya) banyak. Itu kan semuanya mahal,” jelas Ollyvia.
Namun, bagi Mita Kole, harga lapis legit yang mahal tidak pernah membuatnya berpikir dua kali sebelum membelinya, mengingat dia adalah penggemar berat penganan yang satu ini.