Share

Serukan Konstitusi AS Dihentikan, Gedung Putih Marah dan Kutuk Trump

Susi Susanti, Okezone · Senin 05 Desember 2022 12:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 05 18 2720690 serukan-konstitusi-as-dihentikan-gedung-putih-kutuk-trump-IXULiA6HBV.jpg Mantan Presiden AS Donald Trump (Foto: AFP)

WASHINGTON - Gedung Putih mengutuk mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump setelah dia menyerukan "penghentian" konstitusi AS.

Juru bicara Gedung Putih Andrew Bates mengatakan komentar Trump adalah "laknat bagi jiwa bangsa kita".

"Anda tidak bisa hanya mencintai Amerika ketika Anda menang," terangnya dalam sebuah pernyataan, dikutip BBC.

 Baca juga: Trump Maju Nyapres pada Pilpres AS 2024, Ini 6 Hambatan yang Bisa Menjegalnya

Dia menambahkan bahwa komentar Trump harus ‘dikutuk secara universal.’

Seperti diketahui, Trump membuat komentar tersebut dalam sebuah postingan di akun Truth Social miliknya pada Sabtu (3/12/2022) sambil mengulangi klaim palsunya bahwa dia memenangkan pemilihan presiden pada 2020.

Baca juga: Siap-Siap! Trump Akan Umumkan Secara Resmi Maju dalam Pilpres AS 2024

Dalam postingan tersebut, Trump mengacu pada tuduhan yang tidak jelas tentang "penipuan dan penipuan besar-besaran & meluas" dan bertanya apakah dia harus segera kembali berkuasa.

"Penipuan Besar-besaran jenis dan besarnya ini memungkinkan penghentian semua aturan, peraturan, dan pasal, bahkan yang ditemukan dalam Konstitusi. 'Para Pendiri' kita yang hebat tidak menginginkan, dan tidak akan memaafkan, Pemilu Palsu & Penipuan!,” terangnya.

Dia juga menuduh "Perusahaan Teknologi Besar" berkolusi melawannya dengan Demokrat.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

Trump diketahui telah mengumumkan pencalonan presiden ketiganya bulan lalu dan merupakan kandidat terdepan untuk ‘menyegel’ nominasi Partai Republik pada 2024.

Unggahan itu muncul hanya beberapa jam setelah pertimbangan internal Twitter seputar pembatasan cerita pada 2020 tentang Hunter Biden terungkap.

Cerita itu yang muncul beberapa minggu sebelum pemilihan presiden 2020, diterbitkan oleh New York Post dan mengungkap kekacauan kehidupan pribadi dan urusan bisnis putra bungsu Presiden AS Joe Biden.

Twitter awalnya memblokir cerita tersebut karena kebijakan perusahaan tentang materi yang diretas dan dicuri, dan email yang bocor menunjukkan kebingungan dan ketidaksepakatan di antara staf saat mereka berebut untuk menanggapi.

File yang tidak dapat diverifikasi oleh BBC itu diterbitkan di Twitter oleh penulis Substack Matt Taibbi pada Jumat (2/12/2022) malam.

Namun minggu lalu, pemilik Twitter Elon Musk mengisyaratkan bahwa dia akan merilis informasi tersebut.

"Ini diperlukan untuk memulihkan kepercayaan publik,” cuitnya.

Miliarder itu membela langkah tersebut dalam siaran langsung ruang Twitter pada Sabtu (3/12/2022), tetapi dia menerima mungkin ada "risiko hukum" atas keputusannya.

"Kami hanya akan menempatkan semua informasi di luar sana, mencoba untuk mendapatkan yang bersih," ujarnya.

Sementara itu, Demokrat senior lainnya juga menantang Partai Republik - termasuk Rep Eric Swalwell yang mempertanyakan bagaimana anggota partai dapat terus menyebut diri mereka sebagai "Konservatif konstitusional" jika mereka tidak mengutuk komentar tersebut.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini