Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Bertaruh Nyawa, Jenderal Kopassus Ahli Intelijen Ini Menyamar Jadi Sopir Tangkap Pentolan GAM

Tim Okezone , Jurnalis-Jum'at, 16 Desember 2022 |07:45 WIB
Bertaruh Nyawa, Jenderal Kopassus Ahli Intelijen Ini Menyamar Jadi Sopir Tangkap Pentolan GAM
Foto: kopassus.mil.id
A
A
A

JAKARTA – Nama Iptu Umbaran Wibowo mendadak viral di media sosial. Pasalnya, sudah belasan tahun dia bekerja sebagai jurnalis televisi, namun kini menjabat sebagai Kapolsek di Blora, Jawa Timur.

Perwira pertama Polri ini merupakan mantan Intel Khusus (Intelsus) yang ditugaskan sebagai jurnalis TVRI selama 14 tahun.

(Baca juga: Terungkap! Ini Alasan TVRI Terima Intelsus Iptu Umbaran Nyamar Jadi Wartawan Selama 14 Tahun)

Berbicara tentang intelijen, Letjen (purn) Sutiyoso juga dkenal sebagai ahli intelijen dari Korps Baret Merah Kopassus. Bahkan dia diangkat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Salah satu aksi paling menegangkan dan penuh risiko adalah saat Sutiyoso mendapat tugas untuk menangkap petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Melansir buku bigorafinya berjudul, “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando” mantan Pangdam Jaya ini mendadak mendapat perintah menggantikan Mayor Yani Mulyadi untuk tugas operasi ke Aceh. Seluruh pasukan akan diberangkatkan pada pukul 05.00 WIB.

Sutiyoso langsung menyambut dengan sigap meskipun sempat merasa kaget. Bersama pasukannya, dia kemudian melakukan Operasi Sandi Yudha dengan sandi Nanggala 27.

Sutiyoso mulai mengetahui keberadaan Hasan Tiro dan petinggi GAM lainnya. Dia mendapat informasi jika juru masak Hasan Tiro kerap mengambil beras di sebuah rumah dekat hutan. Bersama pasukannya, Sutiyoso kemudian melakukan pengepungan.

Benar saja, orang yang ditunggu pun datang dan mendekati rumah tersebut. Namun, juru masak tersebut menyadari ada yang tidak beres dan mulai curiga. Dia terlihat ragu-ragu untuk masuk ke rumah tersebut untuk mengambil logistik. Saat juru masak berbalik untuk pergi, Sutiyoso langsung memerintahkan sniper untuk melumpuhkannya.

Juru masak itupun akhirnya ditangkap dan diinterogasi. Dari mulut juru masak tersebut, Sutiyoso mendapat informasi penting terkait keberadaan Hasan Tiro Cs. Tidak mau berlama-lama, setelah tiga hari melakukan perjalanan Sutiyoso langsung melakukan penyergapan tempat persembunyian Hasan Tiro, namun upaya tersebut tidak berhasil sebab Hasan Tiro Cs telah melarikan diri.

”Ketika kami sampai ke tempat itu keadaannya masih hangat. Mereka baru saja meninggalkan tempat itu. Paling tidak saya mendapat gambaran bahwa Hasan Tiro masih tidak jauh dari tempat itu,” kenang Sutiyoso.

Dia juga mendapat informasi jika Hasan Tiro mengutus orang penting ke rumah seorang guru ngaji. Utusan tersebut tidak lain adalah Menteri Keuangan GAM bernama Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe atau biasa disebut Usman.

Dengan gerak cepat, Sutiyoso pun berhasil mengorek keterangan dari guru ngaji yang mengaku akan menjemput dan mengantar Usman ke rumah seseorang pengusaha di Lhokseumawe. Berbekal informasi tersebut, Sutiyoso langsung mengatur strategi bagaimana caranya supaya bisa mengadakan pertemuan dengan pengusaha tersebut di sebuah restoran.

Keduanya, akhirnya bisa bertemu dan melakukan pembicaraan bisnis di restoran. Kala itu, Sutiyoso menyamar sebagai seorang pebisnis. Pada hari yang ditetapkan, pengusaha bersama sekretarisnya seorang pria akhirnya datang ke kediaman Sutiyoso. Saat pertemuan baru dimulai, Sutiyoso yang didampingi Kapten Lintang Waluyo seorang perwira intel Kodam Iskandar Muda langsung menodongkan pistol kepada pengusaha tersebut. Sutiyoso kemudian mengorek keterangan mengenai keberadaan Hasan Tiro Cs.

Mendapat ancaman tersebut, pengusaha yang ketakutan kemudian membeberkan jika dirinya ditugaskan mengumpulkan dana untuk biaya Usman pergi ke Badan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat. Sementara Usman sendiri sudah berada di rumah kakaknya di Medan.

Tak ingin buruannya lepas, Sutiyoso bersama pengusaha dan sekretarisnya kemudian menyewa pesawat khusus yang langsung pergi ke Medan. Masalah kemudian muncul karena Medan bukan bagian dari Kodam Iskandar Muda tempat Sutiyoso menggelar operasi.

Setibanya di Polonia, Medan, Sutiyoso langsung menuju Guest House Kodam Iskandar Muda dan selanjutnya bergerak ke Kodam II/Bukit Barisan. Kepada Asisten Intelijen, Sutiyoso mengaku sebagai perwira menengah pasukan Komando Sandiyudha dan memohon agar mendapat bantuan satu detasemen intelijen. Namun permohonan Sutiyoso tidak mendapat respons karena Asisten Intelijen tersebut juga ingin menangkap sendiri petinggi GAM.

Sutiyoso akhirnya memutuskan untuk menangkap petinggi GAM itu sendirian. Dia membutuhkan dua mobil untuk menjalankan tugas operasinya tersebut. Sutiyoso akhirnya mendapatkan mobil Toyota Hardtop dari LNG Lhokseumawe dan mobil sedan dari kenalannya di Medan. Selanjutnya, Sutiyoso kembali ke Guest House Iskandar Muda menemui pengusaha tersebut.

Sutiyoso kemudian membeberkan strategi yang akan dijalankannya. Sutiyoso meminta agar pengusaha tersebut menjadikan dirinya sebagai sopir pribadi yang baru dari Makassar dan belum menguasai bahasa Aceh. Bahkan, Sutiyoso berpesan agar pengusaha tersebut benar-benar memperlakukannya sebagai sopir pribadi agar orang yang diburunya tidak curiga. Dengan mengendarai dua mobil yang dipinjamnya, Sutiyoso didampingi tiga anggotanya bergerak menuju rumah kakak Usman. Dalam perjalanan, Sutiyoso kembali menekankan pengusaha dan sekretarisnya untuk tidak macam-macam.

”Kamu bilang saja duitnya sudah ada, tapi di hotel harus ambil sendiri karena takut membawanya. Jangan coba-coba melarikan diri, kamu berdua bisa mati sebab rumah tersebut sudah dikepung pasukan saya,” gertak Sutiyoso. Setelah disepakati, Sutiyoso kemudian menjadi sopir pribadi si pengusaha bergerak menuju kediaman kakak Usman. Pengusaha duduk di sebelah kirinya, sedangkan sekretarisnya duduk di jok belakang mobil Toyota Hardtop.

Sementara Lintang, Darno dan seorang polisi penerjemah membuntutinya dengan mobil sedan dari belakang. Kepada ketiga anggotanya, Sutiyoso memberitahu kode atau isyarat jika mobil yang dikendarainya mengedipkan lampu pendek dua kali dan lampu panjang sekali, itu artinya sasaran sudah masuk mobilnya dan memerintahkan mobil yang kendarai ketiga anggotanya untuk langsung memepet dan mereka harus segera masuk ke mobil untuk memborgol Usman.

Setibanya di rumah yang dituju, Sutiyoso parkir di seberang sementara Kapten Lintang parkir agar jauh di belakang sekitar 75 meter dan di tempat gelap. Detik demi detik yang dilalui Sutiyoso cukup menegangkan. Bahkan, Sutiyoso mengaku deg-degan mengingat kekuatan untuk menangkap petinggi GAM hanya empat orang. Sekitar 10 menit kemudian, Sutiyoso kaget karena sekretaris keluar rumah dengan tergesa-gesa. “Ada apa?” gumam Sutiyoso ke sekretaris pengusaha tersebut.

Ternyata sekretaris tersebut hanya ingin memberi tahu jika Usman ada di rumah tersebut. Sekretaris tersebut keluar dengan tergesa-gesa karena saking senangnya. “Kamu ikut bujukin dia lagi, supaya mau mengambil uangnya di hotel,” kata Sutiyoso. Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya Usman bersama pengusaha dan sekretarisnya keluar rumah. Dari jauh Sutiyoso mengamati wajah Usman, lalu dengan senter kecil mencocokkan dengan foto yang dibawanya. Sutiyoso yakin, jika orang berambut gondrong memakai jaket dan celana jeans adalah Usman.

Semakin dekat, Sutiyoso semakin yakin, jika di hadapannya adalah orang yang dikejarnya selama ini. Usman kemudian menyeberang dan mendekati mobil Sutiyoso. Tampak sekali keraguan dari wajah Usman sebelum masuk ke dalam mobil. Penyamaran Sutiyoso pun nyaris terbongkar karena Usman tiba-tiba bertanya kepada pengusaha tersebut.

“Itu Siapa?” Tanya Usman sambil menunjuk ke arah Sutiyoso. Sesuai arahan Sutiyoso, pengusaha tesebut dengan cepat menjawab pertanyaan Usman. “Sopir baru saya orang Makassar, belum tahu bahasa Aceh,” ucapnya.

Usman yang percaya kemudian masuk ke mobil Hartop Sutiyoso. Namun enggan duduk di depan dan memilih duduk di belakang bersama sekretaris pengusaha tersebut. Setelah mobil melaju sekitar 50 meter, Sutiyoso kemudian memberikan kode sandi kepada Kapten Lintang dengan mengedipkan lampu pendek dua kali dan panjang sekali.

Sesuai skenario, Kapten Lintang bersama dua orang lainnya yang sedari tadi menunggu di mobil langsung bergerak menghentikan laju kendaraan yang dikemudikan Sutiyoso. Mereka langsung masuk dan memborgol Usman.

(Fahmi Firdaus )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement