Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Panglima Militer Ukraina Klaim Rusia Telah Beradaptasi dengan Sistem HIMARS Buatan AS

Tim Okezone , Jurnalis-Sabtu, 17 Desember 2022 |10:57 WIB
Panglima Militer Ukraina Klaim Rusia Telah Beradaptasi dengan Sistem HIMARS Buatan AS
Perang Ukraina-Rusia/Reuters
A
A
A

KIEV - Rusia telah menyesuaikan taktiknya di Ukraina dan menyesuaikan dengan persenjataan yang dipasok Barat yang digunakan Kiev.

Termasuk peluncur roket ganda HIMARS buatan Amerika Serikat. Hal ini diungkapkan oleh Komandan Militer Ukraina, Jenderal Valery Zaluzhny saat wawancara dengan The Economist, Kamis (15/12/2022).

"Mobilisasi Rusia telah berhasil. Tidak benar bahwa masalah mereka begitu parah sehingga orang-orang ini tidak akan berperang. Mereka akan melakukannya," ungkap Jenderal Valery Zaluzhny dikutip dari The Economist via Russia Today.

"Seorang tsar menyuruh mereka berperang, dan mereka pergi berperang," tambahnya.

Zaluzhny mengklaim bahwa sementara tentara Rusia tidak dilengkapi dengan baik namun mereka masih menghadirkan masalah untuk Ukraina.

Menurutnya, Moskow tidak akan ragu untuk mencoba dorongan baru menuju ibu kota, Kiev.

Zaluzhny juga mengklaim bahwa Moskow telah mengubah taktiknya dalam konflik yang sedang berlangsung, menyesuaikan dengan persenjataan yang digunakan untuk melawan Ukraina.

"Mereka telah pergi ke jarak yang tidak bisa dijangkau oleh HIMARS. Dan kami tidak memiliki jarak yang lebih jauh," jelasnya.

Zaluzhny juga menggemakan permintaan berulang dari Kiev kepada pendukung Barat untuk memasoknya dengan amunisi jarak jauh.

Panglima militer tidak merinci ke mana tepatnya pasukan Rusia konon pergi untuk berada di luar jangkauan sistem HIMARS.

Ia juga mengeluhkan serangan rudal yang diluncurkan Moskow terhadap infrastruktur kritis Ukraina.

Namun, pada saat yang sama, dia mengklaim pertahanan udara Ukraina telah menunjukkan rasio intersepsi yang sangat tinggi.

"Sekarang kami memiliki rasio 0,76 (menjatuhkan rudal). Rusia menggunakan koefisien kemanjuran 0,76 ini ketika mereka merencanakan serangan mereka. Ini berarti bahwa alih-alih 76 rudal, mereka meluncurkan 100," jelasnya.

"Dan 24 melewati dan mencapai target mereka. Dan apa yang dilakukan dua rudal ke pembangkit listrik? Itu tidak akan berfungsi selama dua tahun. Jadi harus dibangun," tambahnya.

Kampanye pengeboman infrastruktur terjadi setelah serangan Jembatan Krimea, yang didukung secara luas oleh pejabat tinggi Ukraina dan Moskow menyalahkan dinas intelijen Kiev.

Serangan-serangan itu sekarang telah membuat sistem negara itu berada di ujung tanduk dan keruntuhannya akan memakan banyak korban juga pada pasukan, Zaluzhny menegaskan.

"Menurut pendapat pribadi saya, saya bukan ahli energi tetapi bagi saya tampaknya kami berada di ujung tanduk. Kami menyeimbangkan garis yang tipis. Dan jika (jaringan listrik) dihancurkan, saat itulah istri dan anak-anak tentara mulai membeku," jelasnya lagi.

"Dan skenario seperti itu mungkin terjadi. Suasana hati seperti apa yang akan dialami para pejuang, dapatkan Anda bayangkan? Tanpa air, cahaya, dan panas, dapatkah kita berbicara tentang menyiapkan cadangan untuk terus berperang," tanya Zaluzhny.

Tetap saja, Ukrain siap untuk melanjutkan pertempuran, Zaluzhny bersikeras, menambahkan bahwa dia teguh dalam keyakinannya.

"Rusia dan musuh lainnya harus dibunuh, dibunuh saja, dan yang paling penting, kita tidak perlu takut melakukannya," tutupnya.

(Natalia Bulan)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement