PADA 5 Oktober 1997, bertepatan dengan hari ABRI, Abdul Haris (AH) Nasution dianugerahi pangkat Jenderal Besar bintang lima. Selain Nasution, ada dua jenderal yang menyandang bintang lima sepanjang sejarah RI, yaitu Soedirman dan Soeharto.
Berikut cerita tiga jenderal legendaris TNI tersebut, seperti dikutip dari buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia, penerbit Narasi.
AH Nasution
Nasution nyaris menjadi korban G 30 S. Namanya termasuk dalam daftar penculikan. Beruntung, ia dapat lolos dari kepungan, walaupun kehilangan puterinya, Ade Irma Suryani. Pak Nas memang sosok yang berani terang-terangan menentang komunis. Pada tahun 1948 ia memimpin pasukan Siliwangi menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Ia juga aktif menghalangi manuver-manuver PKI, antara lain menentang usul mempersenjatai buruh dan tani.
Awal pemerintahan Orde Baru, Pak Nas sempat berperan. Semula, beberapa tokoh AD, seperti Kemal ldris, H.R.Dharsono, dan Sarwo Edi, mendesaknya untuk menjadi presiden. Tetapi, Pak Nas hanya menjadi Ketua MPRS. Tahun 1968, lewat keputusannya, MPRS mengangkat Soeharto menjadi presiden.
Kemesraan Nasution-Soeharto juga tidak lama. Setelah Soeharto berkuasa, Nasution malah dising kirkan. Keterlibatannya dalam Petisi 50 dianggap sebagai biang keladinya. Puncaknya, 1972, setelah 13 tahun memimpin angkatan bersenjata, Nasution dipensiunkan dini dari dinas militer. Sejak saat itu Nasution tersingkir dari panggung politik.
Dalam masa tuanya, Pak Nas sempat dibelit persoalan hidup. Rumahnya di JI. Teuku Vmar Jakarta, tampak kusam dan tidak pernah direnovasi. Secara misterius pasokan air bersih ke rumahnya terputus, tak lama setelah Pak Nas pensiun. Namun, setelah 21 tahun dikucilkan, tiba-tiba Nasution dirangkul lagi oleh Soeharto.
Tanggal 5 Oktober 1997, bertepatan dengan hari ABRI, prajurit tua yang dikenal taat beribadah itu dianugerahi pangkat Jenderal Besar bintang lima. Selain Nasution, ada dua jenderal yang menyandang bintang lima sepanjang sejarah RI: yaitu Soedirman dan Soeharto. Abdul Haris Nasution tutup usia di RS Gatot Soebroto, pukul 07.30 WIB, pada tanggal 6 September 2000.
Soedirman
Secara sepintas, pendidikan militer Soedirman sebenarnya tak seberapa jika dibandingkan teman-temannya alumni Akademi Militer Belanda. Ia hanya menjalani pendidikan daidancho (setingkat komandan batalion) Peta. Ia adalah salah satu dari 69 kepala batalion yang ada di Jawa, Bali, dan Madura.
Namun ia memiliki bakat kepemimpinan Iuar biasa. Figurnya kharismatik, serta menampakkan kedewasaan yang jauh melampaui usianya. Bakat kepemimpinannya itu tampak ketika Soedirman bersama pasukan yang dipimpinnya berhasil mengusir tentara Sekutu anak buah Jenderal Bethel dari kota Magelang dan Ambarawa.
Pertempuran itu dikenang sebagai "Palagan Ambarawa" (November-Desember 1949). Dalam pertempuran yang berlangsung tanpa henti pada tanggal 12-15 1945, pasukan Sekutu berhasil dipukul mundur. Sebagai kenangan, setiap tanggal15 Desember, negara memperingatinya sebagai hari Infanteri.
Ketika dikeluarkan Makloemat Pemerintah pada 1 November 1945, bermunculan pasukan-pasukan bersenjata dari berbagai unsur. Banyak partai memiliki pasukan bersenjata sebagai ounderbouwnya. Karena perbedaan ideologi, agama, dan latar belakang sosial, sering terjadi perselisihan di antara mereka. Namun,laskar-Iaskar ini dapat dipersatukan dengan tentara oleh Soedirman.
Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk pada 15 Oktober 1945, dan Soedirman dipercaya mernimpin Divisi V Banyumas dengan pangkat kolonel. Ketika dilangsungkan Kongres TKR tanggal12 November 1945 di Yogyakarta, Soedirman dipilih sebagai Panglima Besar TKR dengan pangkat jenderal, dan Oerip Soemohardjo ditunjuk sebagai Kepala Staf.
Dua tahun kemudian, TKR berubah nama menjadi TNI. Ia dilantik pada tanggal18 Desember 1945. Dalam program Re-Ra tahun 1948, pangkatnya diturunkan menjadi letnan jenderal. Soedirman terkenal berwatak keras terhadap dirinya sendiri. Walaupun sakit berkepanjangan, ia tetap mernimpin langsung pasukannya bergerilya naik gunung turun jurang. Ia adalah panglima yang tak bisa duduk di belakang meja.
Selama tujuh bulan, Soedirman berada di atas tandu untuk mernimpin pasukannya bergerilya dengan rute dari Yogyakarta, Surakarta, Madiun, hingga Kediri. Mengenai penyakitnya ini, ia pernah berkata, "Kalau saja zaman damai, say a menurut saja perintah dokter. Tapi, kalau dalam masa perang seperti sekarang ini, harap dimaafkan saya menyalahi nasihat dokter. Sebab, saya harus mengikuti siasat perang."
Ketika tentara Indonesia masuk Yogyakarta setelah penarikan mundur pasukan Belanda, penyakitnya semakin parah. Akhirnya Jenderal Soedirman wafat di Magelang, 19 Januari 1950, dan dimakarnkan di TMP Semaki, Yogyakarta.