JAKARTA – Mantan prajurit Kopassus Letjen TNI (Purn) Soegito membagikan pengalamannya saat menjadi Perwira Pertama RPKAD pada tahun 1964. Saat itu, dia mendapatkan perintah untuk mengejar gerombolan DI/TII di belantara Sulawesi yang dipimpin Kahar Muzakkar.
Dari sejumlah perwira yang dinyatakan lulus seleksi, tidak semuanya diberi kesempatan langsung mengikuti pendidikan dasar komando di Pusat Pendidikan Para Komando Angkatan Darat di Batujajar, Jawa Barat.
(Baca juga: Detik-Detik Barok Si Jagal Poso Meregang Nyawa Usai Baku Tembak dengan Kopassus di Gunung Biru)
Sebaliknya mereka dipecah ke dalam dua kelompok ada yang langsung mengikuti pendidikan komando di Batujajar, namun ada juga yang dikirim ke daerah operasi di Sulawesi Selatan. Kelompok pertama terpilih untuk melanjutkan ke pendidikan dasar komando, karena katanya sudah mempunyai pengalaman operasi.
"Saya bisa langsung dapat pengalaman operasi,"ujarnya dikutip dari buku Letjen (Purn) Soegito, Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen.
Perjalanan kapal yang cukup menyiksa, terutama saat kapal menyeberangi Laut Jawa, merontokkan nyali sebagian dari mereka karena mabuk laut. Setibanya di Ujung Pandang mereka mendapat informasi bahwa juniornya yang sudah lebih dulu tiba seperti Letda Inf Sintong Panjaitan dan Letda Inf Wismoyo sudah dikirim ke lapangan.
Mereka sudah lebih dulu menjadi organik RPKAD, karena usai kursus infanteri langsung ke baret merah namun belum mengikuti latihan komando. Karena sewaktu kursus infanteri belum mendapatkan pendidikan Para, mereka juga belum boleh memakai baret merah.
Selanjutnya, rombongan kecil ini digeser ke Parepare dengan menumpang truk militer. Di sepanjang perjalanan ke Parepare, mereka melihat banyak tentara berjaga di beberapa pos yang sudah dikuasai pasukan TNI.
Mereka didrop menggunakan helicopter di lokasi penugasan dengan rincian satu perwira satu point. Soegito diturunkan di Tanah Batue, sebuah kampung kecil di pedalaman yang masuk wilayah Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone. Karena merasa penugasannya tidak akan lama, Soegito meninggalkan pakaian cadangannya di Parepare.
Saat itu, di Tanah Batue sudah ada satu kompi dengan komandan Lettu Rahman. Belum lama Soegito bergabung di kompi ini, Letnan Rahman mendapat cuti dari tugas, yang otomatis menempatkan Soegito sebagai komandan kompi pengganti.
Kondisi serupa juga dialami Soetedjo dan mungkin beberapa perwira yang lainnya. Sepertinya sudah menjadi kebijakan dari komando atas untuk mengistirahatkan komandan kompi, supaya memberikan kesempatan kepada para perwira remaja mendapatkan pengalaman operasi tempur.
Akhirnya kesempatan itu pun dating juga. Dilaporkan ada gerombolan yang dicurigai sebagai pengikut Kahar Muzakkar, dalam perjalanan ke sebuah lokasi yang belum diketahui. Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk menjangkau posisi gerombolan ini. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Soegito langsung memutuskan untuk bergabung dengan peleton pemburu yang disiapkan.
Di dalam dirinya hanya ada semangat stoottroepen untuk memburu dan mendapatkan target. Pengalaman operasi yang akan meninggalkan kesan terdalam baginya kelak. Setelah beberapa hari menelusuri hutan dan sempat kembali merasakan sakit di bagian kakinya, peleton ini tiba di sebuah lokasi yang rupanya tidak jauh dari posisi gerombolan yang diburu.
Kontak tembak langsung terjadi. Posisi Soegito yang agak di belakang, menyulitkannya untuk mendapatkan keterangan detail posisi musuh dari komandan regu atau komandan peleton. Tiba-tiba saja terlihat dua orang berlari dari balik pepohonan sambil membawa senjata. Reflek, Soegito langsung memberondongkan AK-47 ke arah dua laki-laki itu.
Mereka langsung roboh diterjang timah panas kaliber 7,62 milimeter. "Tampias Pak, tampias," ujar seorang bintara, yang maksudnya musuh jatuh karena tembakan.
Soegito lalu mendatangi korban yang katanya dari tembakan senjatanya, meski ia tidak terlalu yakin. Sambil berdiri di depan mayat itu, lama Soegito termangu, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Benaknya berkecamuk, pikirannya menerawang tidak jelas, dan suara-suara halus bersahutan di batinnya saling berperang.
"Pertama kali saya bunuh orang meski saya tidak yakin betul apakah itu tembakan saya atau dari anggota yang lain," ujar Soegito.
Semua anggota mengatakan tidak menembak ke arah sasaran itu. Misi pertama dan kontak senjata pertama, yang langsung menjatuhkan korban di pihak lawan. Bintaranya yang melihat perubahan sikap di dirinya setelah itu, kemudian menegur dan membesarkan hatinya.
Dia bilang, lupakan saja kejadian tadi, karena begitulah hukumnya dalam bertempur, kalau kita tidak menembak maka kita yang ditembak. "Saya merasa shock, saya tidak pernah menceritakan hal ini kepada teman-teman, bahkan sampai sekarang," ujar Soegito.
Tidak lama kemudian Operasi Kilat dinyatakan selesai setelah Kahar Muzakkar berhasil ditembak mati pada 3 Februari 1965. Mantan Dangrup 1 RPKAD ini dan teman-temannya yang lain kembali ditarik ke Cijantung, dipulangkan dengan menumpang pesawat terbang.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.