JAKARTA - Bhatoro Katong konon merupakan utusan Kesultanan Demak yang menyebarkan agama islam di Ponorogo. Ia juga dikenal sebagai Adipati pertama Ponorogo. Konon suatu ketika Bhatoro Katong pernah terlibat perang sengit Ki Ageng Kutu atau dengan nama lain Ki Demang Kutu Suryo Alam yang konon masih merupakan kerabat dekat Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.
Bhatoro Katong kala itu kerap menyebarkan agama islam kepada orang-orang Jawa yang masih memeluk agama Hindu dan Buddha. Suatu ketika perjalan Bhatoro Katong dari Demak mengarah ke tenggara tiba di Desa Plampitan, yang saat ini Desa Setono, perdikan Bhatoro Katong di wilayah Kota Ponorogo.
Di desa itulah konon Bhatoro Katong bersama prajuritnya mengajarkan agama islam kepada orang Jawa yang masih beragama buddha. Orang - orang Jawa saat itu pun senang dengan agama islam yang diajarkan oleh Bhatoro Katong dan pasukannya, sebagaimana dikutip dari "Kisah Brang Wetan :Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan", terjemahan Karsono Hardjoseputro.
Baca juga: Awal Masuknya Islam di Jawa Tengah, Berawal dari Runtuhnya Kerajaan Majapahit
Ketika itu, Ki Ageng Kutu yang masih menganut agama buddhapun sudah mendengar bahwa Bhatoro Katong mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Jawa yang berada di wilayahnya. Ki Ageng Kutu tidak menghalangi karena sudah tahu bahwa hal itu merupakan perintah Sultan Demak. Setelah beberapa tahun, orang-orang sebelah utara-mulai Desa Plampitan ke utara hingga Madiun, telah merasuk agama Islam.
Baca juga: Hayam Wuruk Sering Blusukan ke Pelosok Wilayah Majapahit Lihat Rakyatnya
Bhatoro Katong kemudian bergerak ke selatan, menduduki Desa Nglangu, mendekati kota Ki Ageng Kutu. Di desa itu, dia juga mengajarkan agama Islam. Lama-kelamaan, Ki Ageng Kutu disarankan agar masuk Islam dan meninggalkan agama Buddha. Ki Ageng Kutu menolak karena merasa sudah tua dan sudah cocok dengan agama Buddha.
Meskipun demikian, ia tidak melarang apabila ada orang di wilayahnya akan masuk agama islam. Bhatoro Katong tidak puas atas jawaban demikian, dan terus memaksa agar Ki Ageng Kutu harus memeluk Islam. Akhirnya, mereka berselisih kata dan bertikai, sehingga pecah perang antara orang mukmin dan orang Buddha.
Perang berlangsung hingga bertahun-tahun dan saling mengalahkan. Kadang-kadang orang Buddha kalah, di lain waktu orang Islam yang kalah. Suatu ketika, Ki Ageng Kutu mengerahkan bala tentaranya dengan memanggil para pendeta dan pertapa di gunung untuk maju perang.
Sementara itu, Ki Ageng Kutu berperang pada malam hari. Konon tunggangannya banteng gagah perkasa, dengan lompatan sangat kuat dan jauh. Senjata Ki Ageng Kutu berupa tombak dan pedang. Pada suatu malam, ketika semua sudah siap, seluruh orang Buddha maju perang dengan dipimpin Ki Ageng Kutu dan ajar Gunung Bayangkaki.
Medan perang berada di sebelah utara Desa Nglawu, yang kini masuk sebuah dukuh di Desa Jabung, Kecamatan Mlarak, Ponorogo. Ketika itu banyak orang Islam yang mati dan orang Islam kalah. Mereka yang selamat dari kematian melarikan diri dan mencari hidup, bersembunyi di hutan atau di desa-desa orang Islam.
Bhatoro Katong pun melarikan diri, terpisah dengan bala tentaranya, hingga tiba di Kali Tempuran. Setelah tahu orang-orang Islam melarikan diri dan tak tersisa, orang-orang Buddha pulang kembali ke rumah masing-masing. Bhatoro Katong sangat sedih. Dia kemudian kembali ke Demak untuk minta bantuan ke Sultan Demak kembali memberi bala tentara.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.