JAKARTA - Pangkat tertinggi dalam karier prajurit, baik di Kepolisian maupun TNI, adalah bintang empat atau jenderal. Mereka yang berhasil menyandang pangkat jenderal tentu memiliki kinerja dan prestasi yang membanggakan. Berikut adalah jenderal-jenderal asal Banten yang memiliki prestasi yang melejit:
1. Taufiequrachman Ruki
Inspektur Jenderal Polisi (Purn) Drs Taufiequrachman Ruki, SH merupakan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pertama di Indonesia, periode 2003-2007. Purnawirawan polisi dengan pangkat terakhir jenderal bintang dua ini lahir di Rangkasbitung, Banten.
Taufiequrachman Ruki berkarier di kepolisian sejak 1971 hingga 1997. Pada 1971, ia menjadi lulusan terbaik Akademi Polisi (Akpol). Setamatnya dari Akpol, Taufiequrachman pun memulai karier polisinya sebagai Perwira Staf Bagian Operasi Polwil Purwakarta (1971) dan Perwira Seksi Reskrim Polres Karawang (1972).
Kemudian, pada 1974, ia ditugaskan menjadi Kepala Kepolisian Sektor Kelari Polres Karawang. Setelah itu, Taufiequrachman melanglang ke berbagai daerah penugasan, seperti Bandung, Baturaja, Palembang, Lampung Selatan, hingga akhirnya ditarik ke pusat.
Ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Wilayah Malang di tahun 1992-1997 bersamaan dengan terpilihnya ia menjadi anggota DPR RI Komisi III dari Fraksi TNI Polri dan menjabat pada tahun 1999-2001.
BACA JUGA:Kisah Jenderal Kopassus Menyamar Jadi Sopir Berhasil Bekuk Para Petinggi GAM
Di tahun 2003, perolehan 43 suara dalam pemilihan Ketua KPK membuat Taufiequrachman didapuk sebagai Ketua KPK pertama di Indonesia. Setelah itu, pada 2015, ia diperintah oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi Pelaksana Tugas Ketua KPK menggantikan pemimpin yang sedang diberhentikan sementara.
2. Herman Sarens Soediro
Brigadir Jenderal TNI (Purn) H Herman Sarens Soediro lahir di Pandeglang, Banten. Dalam karir militernya, ia tercatat pernah menjadi Komandan Batalyon Infanteri 312/KH Divisi Siliwangi di Bandung, Wakil Komandan Korps Markas Hankam di Jakarta, dan Komandan Korps Markas Hankam pada tahun 1970. Namanya makin terkenal saat ia menjadi Ketua Umum Persatuan Promotor Tinju Indonesia (PPTI).
Herman pernah terjerat kasus penggelapan aset tanah milik TNI yang membuatnya disidang oleh Pengadilan Militer Tinggi, Jakarta. Dalam kasus itu, ia mewakili TNI menerima hibah dari beberapa pihak berupa tanah seluas 29 ribu meter persegi di daerah Jakarta Selatan.
Sebelumnya, ia menolak ditangkap oleh TNI dengan alasan dirinya sudah menjadi warga sipil, sehingga yang berhak menangkap dirinya adalah pihak kepolisian. Herman Sarens Sudiro wafat pada 11 Juli 2010 di Jakarta karena komplikasi akibat gagal ginjal.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.