MOSKOW – Rusia pada Senin, (27/2/2023) mengatakan bahwa pihaknya khawatir dengan keadaan keamanan di wilayah Transnistria, yang memisahkan diri di Moldova, dimana Kremlin mengklaim bahwa ada ancaman dari Ukraina yang dapat memicu konflik.
BACA JUGA: Presiden Moldova Tuding Rusia Rencanakan Kudeta, Gulingkan Pemerintahnya yang pro-Uni Eropa
Pekan lalu Moskow mengatakan kepada Barat bahwa pihaknya akan menganggap tindakan apa pun yang mengancam pasukan penjaga perdamaian Rusia di Transnistria sebagai serangan terhadap Rusia. Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran di Moldova, sebuah republik kecil bekas Soviet yang terletak di antara Rumania dan Ukraina, tentang kemungkinan ancaman dari Rusia.
Presiden Moldova yang pro-Eropa, Maia Sandu, bulan ini menuduh Moskow merencanakan kudeta, sesuatu yang disangkal Rusia.
BACA JUGA: Rusia Beri Peringatan Kepada AS, NATO, dan Ukraina Terkait Transnistria
"Secara alami, situasi di Transnistria menjadi perhatian utama kami dan alasan keprihatinan kami," kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan, sebagaimana dilansir Reuters. "Situasinya tidak menentu, diprovokasi, diprovokasi dari luar.
"Tapi kami tahu bahwa lawan kami di rezim Ukraina, rezim Kiev, serta negara-negara Eropa, mampu melakukan berbagai jenis provokasi."
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak pernyataan Moskow bahwa Ukraina ingin mengambil alih wilayah itu, sementara Moldova sedih tuduhan itu tidak benar.
Vadim Krasnoselsky, presiden Transnistria, yang mendeklarasikan diri, sebelumnya menggambarkan situasi di kawasan itu tegang, tetapi mendesak orang untuk tetap tenang dan mengatakan bahwa warga akan segera diberi tahu jika ada ancaman bahaya yang muncul, demikian dilaporkan kantor berita RIA Novosti yang Rusia.
Transnistria adalah wilayah di tepi kiri Sungai Dniester yang memproklamirkan kemerdekaan dari Moldova pada awal 1990-an, tak lama setelah runtuhnya Uni Soviet. Sekira 1.100 tentara Rusia ditempatkan di Transnistria sebagai penjaga perdamaian untuk memantau gencatan senjata tahun 1992 antara pasukan Moldova dan milisi lokal.
(Rahman Asmardika)