Untuk mencapai hal itu, Jill melakukan perjalanan selama tiga jam ke bagian selatan Kenya yang terpencil, di dekat perbatasan Tanzania. Iring-iringan mobil yang membawa Ibu Negara dengan mobil berukuran besar melewati desa-desa dengan sapi yang kurus, dasar sungai yang mengering dan gereja yang penuh sesak pada Minggu pagi yang cerah dan panas. Gereja ini berfungsi sebagai pusat bantuan kemanusiaan.
Di Lositeti, Jill disambut ribuah warga yang sebagian besar berasal dari komunitas Maasai, yang berjalan kaki hingga 40 kilometer untuk mencapai satu-satunya mata air di kawasan itu. Sejumlah penduduk bernyanyi dan menari sambil memberikan Jill sebuah shuka atau jubah tradisional berwarna merah yang dikenakan para penggembala yang terkenal karena kepiawaian mereka sebagai pejuang dan pemburu.
Jill duduk dengan sekelompok perempuan di bawah satu pohon, dan selama 30 menit ia berdialog dengan bantuan seorang penerjemah. Koordinator Residen PBB di Kenya Stephen Jackson mengatakan dialog itu membahas pengalaman warga mengatasi krisis yang didorong oleh perubahan iklim dan diperburuk oleh krisis pasokan pangan global.
Dalam kesempatan itu, Jill juga memberikan banyak pertanyaan. Yakni bagaimana musim kering saat ini dibanding sebelumnya dalam masa hidup Anda? Bagaimana mendapatkan pekerjaan sekarang ini? Berapa banyak anak-anak yang tidak dapat pergi ke sekolah? Bagaimana kondisi balita? Inilah sebagian pertanyaan Biden kepada warga, sebagian besar perempuan, yang ikut berdialog dengannya. Banyak yang menjawab dalam bahasa Maa. Jill kemudian memaparkan hasil dialog itu kepada wartawan.
“Mereka bicara tentang bagaimana ternak-ternak mereka mati. Jelas kita dapat melihat betapa buruknya kekeringan di sini. Satu sumber mata air memberi makan 12 desa, dan setiap desa memiliki sekitar 1.000 – 1.200 orang,” lanjutnya.