Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Ujung Tombak Diplomasi Indonesia Sebelum Pertempuran 10 November di Surabaya

Tim Okezone , Jurnalis-Selasa, 28 Februari 2023 |07:23 WIB
Kisah Ujung Tombak Diplomasi Indonesia Sebelum Pertempuran 10 November di Surabaya
A
A
A

Soebardjo kemudian menyerahkan segala keputusan di tangan Gubernur Soerjo. Lantas keluarlah pidato orang nomor satu di Jatim itu kepada segenap rakyat Surabaya dan sekitarnya pada 9 November malam lewat radio.

“Saudara-saudara sekalian. Pucuk pimpinan kita di Jakarta telah mengusahakan akan membereskan peristiwa Surabaya pada hari ini, tetapi sayang sekali sia-sia belaka, sehingga kesemuanya diserahkan kepada kebijaksanaan kita di Surabaya sendiri.

Semua usaha kita untuk berunding senantiasa gagal. Untuk mempertahankan kedaulatan negara kita, maka kita harus menegakkan dan meneguhkan tekad kita yang satu, yaitu berani menghadapi segala kemungkinan.

Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah, lebih baik hancur dari pada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris, kita akan memegang teguh sikap kita ini. Kita tetap menolak ultimatum itu.

Dalam menghadapi segala kemungkinan besok pagi, mari kita semua memelihara persatuan yang bulat antara pemerintah, rakyat, TKR, Polisi dan semua Badan-badan perjoangan pemuda dan rakyat kita.

Mari kita sekarang memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga kita sekalian mendapat kekuatan lahir-bathin serta Rakhat dan Taufik dalam perjoangan. Selamat berjoang!,”

Pertempuran besar pun tak terelakkan. Tanggal 10 pagi Kota Surabaya dihantam dari udara, laut dan darat. Perlawanan sengit dilancarkan. Pihak Inggris pun sempat kewalahan dan menyebut Surabaya sebagai “Inferno”, atau kota neraka.

Pun begitu, Gubernur Soerjo serta elemen militer republik lainnya mesti menyingkir ke luar Kota Surabaya setelah pertempuran yang berlarut-larut. Gubernur Soerjo kemudian mendirikan pemerintahan darurat di Mojokerto.

Gubernur Soerjo sendiri digantikan pada 1947 lantaran diangkat pemerintahan pusat sebagai wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan setahun kemudian, 10 September 1948, Soerjo ditemukan tak bernyawa di sebuah hutan di Ngawi yang belakangan diketahui, Soerjo jadi korban PKI Madiun.

Soerjo kemudian dikebumikan di Makam Sasono Mulyo, Magetan. Selain dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 1964, sosok Gubernur Soerjo diabadikan menjadi nama jalan di Kota Surabaya, nama perguruan tinggi; Universitas Suryo di Ngawi, serta tiga monumen di Surabaya, Magetan dan Ngawi.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement