Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

2 Peristiwa WNA Disandera KKB, Ada yang Sampai 1 Tahun

Ajeng Wirachmi , Jurnalis-Rabu, 01 Maret 2023 |06:03 WIB
 2 Peristiwa WNA Disandera KKB, Ada yang Sampai 1 Tahun
KKB pimpinan Egianus Kogoya (foto: dok istimewa)
A
A
A

JAKARTA - KKB atau Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua menginginkan wilayahnya untuk merdeka dan terpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Anggota KKB kerap melakukan berbagai hal, seperti membunuh hingga menyandera. Bukan hanya WNI, KKB pernah melakukan penyanderaan atas beberapa orang Warga Negara Asing (WNA). Berikut informasi lengkapnya yang dihimpun dari berbagai sumber:

1. Kapten Philip Mehrtens

Pilot Sushi Air, Philip Mehrtens menjadi sandera KKB di Nduga. Sebelumnya, diketahui bahwa pesawat yang dikendalikan Mehrtens bernomor registrasi PK-BVY itu dibakar oleh anggota KKB pada 7 Februari 2023.

 BACA JUGA:Tolak Permintaan KKB Tukar Pilot dengan Senjata, DPR: Itu Bertentangan dengan Prinsip!

Pesawat tersebut diketahui membawa 5 orang penumpang. Di mata rekan-rekannya, Mehrtens dikenal sebagai sosok serius dan cukup pendiam. Diketahui, Mehrtens menikah dengan seorang WNI dan sudah menetap di Indonesia.

Pemberitaan tentang disanderanya pilot asing asal Selandia Baru ini ramai di berbagai media asing, salah satunya The Guardian. Dalam artikel beritanya pada 8 Februari 2023, The Guardian menyebut bahwa personel polisi dan militer langsung dikirim ke wilayah penyanderaan untuk membebaskan para sandera.

Di sisi lain, pihak personel gabungan tidak bisa banyak mengirim prajurit. Sebab, wilayah tersebut merupakan wilayah yang sangat sulit dijangkau. Sementara itu, pembakaran tersebut dilakukan sebagai bagian dari perjuangan KKB untuk kemerdekaan Papua.

 BACA JUGA:Pangdam Cenderawasih Bilang KKB Bersama Pilot Susi Air Berpindah-pindah

Dalam pernyataannya, KKB menginginkan untuk menukar Mehrtens dengan kemerdekaan Papua. Namun, hal tersebut dirasa sangat tidak relevan untuk berbagai pihak, termasuk Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Ma’ruf menganggap bahwa dibebaskannya Mehrtens bukan sebuah kompensasi dengan kemerdekaan.

Masalah keamanan di Papua, menurutnya sudah bukan lagi merupakan masalah Papua secara umum. Karena, Papua memiliki 6 bagian provinsi, dan hanya 1 yang bermasalah. Jika saat ini ada kelompok yang melakukan tindakan ofensif, hal tersebut sudah tidak dapat digeneralisasi sebagai satu kesatuan Papua.


2. WNA Anggota Tim Lorentz

 

WNA lain yang juga pernah menjadi sandera KKB adalah anggota tim Lorentz. Melalui operasi Mapenduma, Kopassus di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto berhasil membebaskan 26 peneliti yang ada dalam ekspedisi Lorentz 95.

Para peneliti tersebut disandera selama setahun, terhitung sejak Januari 1995 sampai Januari 1996 di Taman Nasional Lorentz, wilayah pegunungan Tengah, Papua. Dari 26 orang peneliti itu, ada beberapa WNA yang berasal dari Jerman, Belanda, dan Inggris.

Adapun ketujuh WNA tersebut adalah Daniel Start, William ‘Bill’ Oates, Annette van der Kolk, dan Anna Mclvor.

Selain Kopassus, pasukan lain yang juga diterjunkan dalam operasi ini adalah Komite Palang Merah Internasional atau ICRC. Setelah melalui mediasi panjang, 9 sandera mulai dibebaskan oleh anggota KKB (kala itu masih bernama OPM/Organisasi Papua Merdeka) pimpinan Kelly Kwalik.

Sayangnya, setelah itu pihak KKB memutuskan hubungan. Komandan Operasi dari sisi KKB, Daniel Koyoga kemudian menolak pembebasan sandera dengan damai, yang diajukan oleh pihak ICRC. Akhirnya, pihak Kopassus memutuskan untuk menyerang KKB dari 6 titik, sesuai apa yang sudah dianalisis oleh tim intelijen. Dari 26 sandera, 3 orang dilaporkan meninggal dunia. Para peneliti asing yang disandera berhasil selamat dan dibebaskan.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement