3. Liliyana Natsir
Dalam dunia olahraga, nama atlet Liliyana Natsir dari Indonesia sangat mendunia. Ia terpilih masuk BWF Hall of Fame. Mantan atlet bulu tangkis spesialis ganda ini merupakan warga Indonesia ke-10 yang masuk pada daftar elite BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia). BWF Hall of Fame merupakan daftar pebulu tangkis yang disusun BWF sejak 1996. Nama atlet yang masuk dalam BWF Hall of Fame dinilai berpengaruh besar dalam dunia bulu tangkis karena prestasi yang ditorehkannya.
Perempuan yang akrab disapa Butet ini menjadi pebulu tangkis putri kedua dari Indonesia yang masuk dalam BWF Hall of Fame. Sebelum Liliyana, Susi Susanti terlebih dahulu masuk BWF Hall of Fame pada 2004.
Berbagai prestasi membanggakan pernah dicapai Liliyana. Ia pernah meraih medali perak di ajang Olimpiade bersama Nova Widianto pada 2008. Masih di ajang yang sama, Butet meraih medali emas bersama Tontowi Ahmad pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016.
Pada ajang All England, ia bersama Tontowi Ahmad berhasil meraih tiga medali emas pada 2012, 2013, 2014. Butet merupakan pemilik gelar juara dunia 4 kali. Gelar tersebut diraihnya bersama Nova Widianto meraihnya pada 2005 dan 2007. Sementara, gelar juara pada 2013 dan 2017 diperolehnya bersama Tontowi Ahmad.
4. Moorissa Tjokro
Moorissa Tjokro adalah warga negara Indonesia yang berprofesi sebagai Autopilot Software atau insinyur perangkat lunak autopilot untuk Tesla di San Fransisco. Ia telah bekerja untuk Tesla sejak Desember 2018. Sebelum menjadi Autopilot Software Engineer, ia ditunjuk sebagai Data Scientist yang juga menangani perangkat lunak mobil.
Dalam tugas kesehariannya, Moorissa mengevaluasi perangkat lunak autopilot, melakukan pengujian kinerja mobil, hingga mencari cara guna meningkatkan kinerja.
Moorissa mengaku, fitur full self driving merupakan proyek terbesar Tesla yang digarap oleh Moorissa. Dalam seminggu, ia bekerja 60-70 jam. Saat kuliah, dirinya aktif berorganisasi di kampus. Berbagai prestasi pun berhasil diraihnya, seperti President’s Undergraduate Research Award serta nominasi Helen Grenga untuk insinyur perempuan terbaik di Georgia Tech.