Kondisi kesehatan yang diderita Halvorsen disebabkan oleh kebijakan-kebijakan Harder. Kematian Halvorsen, pada bulan Juni 1955, mungkin karena penyakit tifus yang diidap di kamp.
Jurgen Kowalewski adalah pensiunan guru sejarah dari Hamburg yang meneliti kehidupan Halvorsen sebagai proyek dua tahun bersama murid-muridnya. Mereka telah mengunjungi tugu peringatan kamp konsentrasi, bekas rumah Halvorsen di Hamburg, dan klub kampung halamannya di Norwegia.
"Kami masih berjuang untuk menamai sebuah jalan di Hamburg dengan namanya," kata Kowalewski dilansir dari BBC, Jumat (17/3/2023).
Upaya itu sejauh ini sia-sia, meski kisah luar biasa Halvorsen pantas untuk lebih dikenal.
Saat berusia 18 tahun, Halvorsen menjadi kapten dan mencetak gol untuk klub kampung halamannya Sarpsborg dalam pertandingan final Piala Norwegia 1917, mengalahkan Brann Bergen 4-1.
Selama bermain di tingkat amatir itu, dia bekerja juga sebagai makelar kapal. Kesempatan datang untuk pindah ke pantai utara Jerman.
Dia bergabung dengan klub Hamburg dan langsung sukses - Halvorsen memimpin klub tersebut meraih dua kejuaraan Jerman dan delapan kejuaraan regional Jerman utara.
Dalam buku A-lagettentang tokoh sepak bola Norwegia terbesar, penulis mengeklaim bahkan ada tawaran untuk Halvorsen bergabung dengan tim nasional Jerman sebagai kapten jika dia mau mengubah kewarganegaraannya. Halvorsen dikabarkan menolak tawaran itu.
Namun untuk waktu yang lama, dia lebih dikenal di Jerman daripada di negara kelahirannya.
Mengapa dia memilih naik kereta itu, mengucapkan selamat tinggal pada Harder, dan meninggalkan Jerman pada September 1933, masih belum jelas.
"Saya ragu dia meninggalkan Jerman karena situasi politik," kata Kowalewski, guru sejarah.
"Kami tidak memiliki bukti dia menentang pihak berkuasa sampai tahun 1940, ketika dia kembali ke Norwegia."
Menurut sebuah laporan di majalah sepak bola Norwegia, Josimar, Halvorsen adalah satu-satunya pemain yang tidak mengangkat tangan ketika rekan satu timnya melakukan penghormatan ala Nazi dalam pertandingan perpisahan untuk mengapresiasinya sebelum pergi.
Tapi Halvorsen kembali ke Jerman tiga tahun kemudian, memimpin timnas Norwegia di Olimpiade Berlin tahun 1936. Di perempat final, Norwegia diremehkan saat melawan negara tuan rumah yang bermain dengan latar belakang propaganda superioritas ras.
Setelah Jerman mengalahkan Luksemburg 9-0 di babak sebelumnya, Hitler, yang bersikap ambivalen terhadap sepak bola, dibujuk untuk menghadiri pertandingan tersebut. Kemenangan Jerman yang diharapkan tidak pernah datang. Norwegia menang 2-0 dan Hitler disebut telah meninggalkan kursinya dengan marah sebelum peluit akhir.
Norwegia kemudian kalah dari Italia 2-1 (yang menjadi juara di Olimpiade Berlin) setelah perpanjangan waktu di semifinal, tetapi Halvorsen dipuji karena analisis pertandingan dan pendekatannya terhadap nutrisi pemain, yang terbilang progresif pada masa itu.
(Nanda Aria)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.