Rebecca Vassarotti, menteri lingkungan untuk Wilayah Ibu Kota Australia, menegaskan kembali bahwa jumlah kanguru harus dikendalikan untuk melindungi spesies terancam punah lainnya, menurut laporan tersebut.
“Kita memiliki ngengat tanpa mulut, kita memiliki naga tanpa telinga, dan kita memiliki kadal tanpa kaki, dan mereka sangat penting bagi ekosistem. Jadi kita harus melakukan pengelolaan sistem tersebut dan terutama memastikan bahwa kita mempertahankan populasi kanguru yang berkelanjutan,” tutur dia.
Di lain pihak, para aktivis berpendapat bahwa kanguru Australia dibunuh untuk diambil daging dan kulitnya.
Mark Pearson, mantan anggota Parlemen New South Wales yang mewakili Partai Keadilan Hewan, mengatakan populasi kanguru dapat diatur dengan membiarkannya pada keadaan alaminya.
Dia menyebut kebijakan pemusnahan pemerintah sangat buruk dan kejam, menurut laporan itu. Penentang praktik tersebut telah melobi untuk larangan impor produk kanguru di Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan negara-negara Asia.
Aktivis mengklaim bahwa keputusan baru-baru ini oleh dua produsen pakaian dan alas kaki terkenal dunia untuk berhenti menggunakan kulit kanguru adalah karena upaya lobi mereka.