JAKARTA - Sejarah Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat menarik untuk dibahas. Diketahui, lokasi ini baru saja dijadikan tempat diumumkannya Ganjar Pranowo sebagai calon presiden (capres) 2024 dari PDIP.
Adalah Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputi yang mengumumkan, partainya mengusung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden di 2024.
“Bismillahrohman nirohim, menetapkan saudara Ganjar Pranowo sekarang Gubernur Jateng sebagai kader dan petugas partai untuk ditingkatkan penugasan sebagai calon presiden RI dari PDIP," ujar Megawati dalam Rapat DPP Partai Ke-140 Diperluas Tiga Pilar di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat yang ditayangkan secara daring, Jumat (21/4/2023).
Setelah mengumumkan Ganjar Pranowo sebagai Calon Presiden 2024, Megawati juga memberikan hadiah kopiah atau peci ke Gubernur Jawa Tengah tersebut.
Peci tersebut mirip peci Soekarno yakni berwarna hitam, yang sering dipakai Bung Karno selama masa hidupnya. Bung Karno sendiri sering menggunakan peci hitam saat acara kenegaraan dan kunjungan ke luar negeri.
Melansir beragam sumber, sejarah Istana Batu Tulis Istana Batu Tulis dibangun pertama kali pada tahun 1704 oleh Vulkanologi bernama Van Riebeeck. Pembangunannya saat itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa masih ada kehidupan di Bogor setelah meletusnya Gunung Salak di tahun 1699.
Istana yang terletak di Jalan Batu Tulis, Kelurahan Batu Tulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor ini memiliki empat bagian. Satu bangunan utama dan tiga bangunan kecil di kompleksnya. Dibangun di lahan seluas 3,8 hektare, istana ini juga dilengkapi dengan kolam ikan, patung di pinggir kolam dan patung rusa tutul.
Istana Batu Tulis juga erat kaitannya dengan keluarga Megawati Soekarnoputri. Diketahui, lokasi ini merupakan tempat rehat presiden pertama Indonesia, yakni Soekarno pada tahun 1968.
Dalam buku 'Kisah Bung Karno Dikucilkan di Wisma Yaso' terbitan Tempo Publishing, kala itu penyakit ginjal Soekarno semakin kronis dan ia dirawat di Istana Batu Tulis. Bahkan beberapa kali tubuhnya membengkak. Namun pada awal Januari 1969, ia dipindahkan ke Jakarta.
Saat itu, di Istana Batu Tulis tidak ada perpustakaan, televisi, radio dan telepon. Soekarno pun meninggal dunia pada 21 Juni 1970. Dalam kesempatan terakhirnya tersebut, Soekarno memiliki satu keinginan, yakni dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor. Sayang pemerintah Orde Baru tidak mengindahkan keinginan tersebut.
(Fahmi Firdaus )