Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengenang Peristiwa Deir Yassin, Pembantaian Ratusan Warga Palestina yang Berusaha Dibantah Israel

Rahman Asmardika , Jurnalis-Minggu, 23 April 2023 |10:01 WIB
Mengenang Peristiwa Deir Yassin, Pembantaian Ratusan Warga Palestina yang Berusaha Dibantah Israel
Pembataian Deir Yassin terjadi pada 9 April 1948 ketika sekira 120 milisi kelompok paramiliter Israel, Irgun dan Lehi menyerang desa berpenduduk 600 orang di dekat Yerusalem itu. (Foto: Middle East Monitor)
A
A
A

JAKARTA - Deir Yassin adalah desa Palestina yang terletak di puncak bukit, tidak jauh dari barat Yerusalem. Namun, jika kita berusaha menemukannya di peta hari ini, desa itu tidak akan ada karena telah rata dengan tanah setelah dijadikan bagian dari pusat kesehatan jiwa oleh Zionis Israel pada 1951.

Namun, bagi Palestina, Deir Yassin lebih dari sekedar desa, tetapi juga saksi dari sebuah kekejaman oleh pasukan Israel. Sebuah pembantaian terjadi di Deir Yassin, yang sampai saat ini masih belum ditanggapi dunia internasional dan berusaha ditutup-tutupi bahkan dibantah oleh israel.

Deir Yassin adalah desa yang damai dengan kurang dari 1.000 penduduk yang hidup cukup santai, dengan tingkat kemakmuran ekonomi. Desa itu terkenal dengan usaha pemotongan batu kapurnya. Namun, semua itu berubah pada 9 April 1948, ketika beberapa ratus milisi Zionis bersenjata masuk ke desa dan melakukan salah satu pembantaian sebelumnya yang menjadi praktik standar bagi Israel, yang baru saja didirikan.

Pada hari Jumat itu, antara 100 dan 250 wanita, anak-anak dan pemuda tak bersenjata dibunuh dalam beberapa jam, tanpa alasan selain karena mereka adalah orang Palestina. Mereka yang selamat, ketakutan, meninggalkan rumah dan harta benda mereka untuk mencari perlindungan di tempat lain.

Para penduduk Deir Yassin pada akhirnya hanya menjadi beberapa dari ribuan korban dalam praktik pengusiran warga Palestina dari rumah mereka, yang masih berlangsung sampai hari ini, tanpa ada tindakan dari dunia internasional.

Tidak ada yang pernah dimintai pertanggungjawaban atas pembantaian Deir Yassin.

Menachem Begin adalah salah seorang fanatik Zionis yang memimpin geng bersenjata, yang dikenal sebagai Irgun, bersama dengan anggota dari milisi lain yang bernama Lehi, untuk membantai warga sipil Palestina yang tidak bersenjata. Kedua kelompok itu hanyalah dua dari lusinan kelompok bersenjata Zionis lainnya yang beroperasi di wilayah Mandat Palestina.

Sebelum, selama, dan setelah Nakba, tugas utama mereka adalah menyiapkan landasan bagi pembentukan Israel modern dengan membunuh dan menggusur sebanyak mungkin warga Palestina—kebijakan bumi hangus yang telah dipraktikkan sejak masa awal Israel.

Nakba sendiri adalah pengusiran besar-besaran dan pembersihan etnis atas kota-kota, desa-desa, dan masyarakat Palestina di tangan kelompok-kelompok pemukim ekstremis Yahudi pada 1948. Para warga Palestina yang diusir dari rumah mereka dan wilayah mereka tak pernah diizinkan untuk kembali.

Ironisnya, Begin kemudian, seperti kebanyakan pemimpin Israel sebelumnya, untuk menjadi politikus dan bahkan menjabat sebagai perdana menteri Zionis dari 1977 hingga 1983. Karir Begin mencapai puncaknya dengan berdamai dengan Mesir sebagai negara Arab pertama yang menormalisasi hubungan dengan Israel.

Propaganda Israel berusaha membantah fakta bahwa pembantaian Deir Yassin pernah terjadi. Namun, fakta menyakitkan dan memalukan itu sekarang tidak diragukan lagi, sama seperti pembantaian terkenal dunia lainnya, seperti pembantaian My Lai yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat (AS) di Vietnam Selatan pada 1968.

Seorang jurnalis Yahudi di Yerusalem, yang menyaksikan pembantaian itu berlangsung, menulis bahwa semua laporan tentang pembantaian itu "langsung, segar, dan meyakinkan". Namun, banyak ekstremis Zionis "masih menolak untuk mempercayainya".

Natan Friedman-Yellin, yang juga seorang milisi Zionis, bahkan menganggap pembantaian Deir Yassin sebagai "tidak manusiawi". Dia adalah seorang komandan gabungan dari Gang Stern Yahudi pada 1948, namun dia tidak bisa menyetujui dan mengerti mengapa rekan-rekannya melakukan tindakan seperti itu.

Seorang anggota delegasi Inggris untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam surat tertanggal 20 April 1948, membenarkan serangan terhadap Deir Yassin di mana "250 pria, wanita, dan anak-anak Arab" tewas dalam "keadaan kebiadaban besar". Palestina, pada saat itu, adalah wilayah Mandat Inggris yang menunggu penentuan status akhir oleh PBB.

Membunuh warga sipil dan menghancurkan seluruh desa dan kota menjadi bagian dari kode etik militer Israel dan masih dipraktikkan secara luas hingga saat ini, tetapi dengan kekuatan yang lebih mematikan. Alhasil, kita telah menyaksikan puluhan pembantaian yang dilakukan oleh tentara Israel di siang bolong dan disiarkan secara langsung di televisi dunia. Sejauh ini tidak ada satu pun perwira militer Israel yang dimintai pertanggung jawaban.

Beberapa catatan kekejaman tentara Israel telah diketahui dunia, tetapi mereka secara terang-terangan mengabaikan semua hukum internasional.

Pada 2009, militer Israel mengebom sebuah sekolah PBB di Gaza, menewaskan setidaknya 40 warga sipil yang berlindung di gedung tersebut. Pada 18 April 1996, tentara Israel menembakkan peluru motor ke sebuah kompleks PBB di dekat desa kecil Qana di Lebanon, menewaskan lebih dari 100 warga sipil yang mencari perlindungan di daerah tersebut tewas dalam hitungan menit.

Baik sekolah di Gaza maupun kompleks di Qana dengan jelas ditandai sebagai properti PBB. Seperti Deir Yassin, tidak ada yang dimintai pertanggung jawaban. Pembantaian Qana dan kekejaman sekolah Gaza telah berlalu tanpa investigasi menyeluruh dan akuntabilitas.

Pada 2021, Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) di Den Haag telah membuka penyelidikan pertamanya atas kejahatan Israel di Tepi Barat dan Gaza. Pada 3 Maret 2021, Jaksa ICC Fatou Bensouda mengumumkan bahwa kantornya akan meluncurkan penyelidikan untuk mencakup semua dugaan kejahatan sejak 2014.

Israel menolak penyelidikan apa pun atas kejahatan perangnya di Palestina, dan Benjamin Netanyahu telah berulang kali menolak penyelidikan ICC. Seperti biasa, Israel mendapat dukungan penuh dari AS untuk menolak penyelidikan ICC, meskipun ada banyak bukti bahwa tentara Israel melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang dalam operasinya yang berulang kali di Gaza dan Tepi Barat.

Baik Israel maupun AS bukan anggota ICC dan tidak mengakui yurisdiksinya. Namun, upaya ICC untuk mengumumkan penyelidikan itu mengirimkan pesan yang jelas kepada politisi dan perwira militer Israel bahwa mereka sedang diawasi dengan ketat.

Dengan eskalasi ketegangan dan kekerasan antara israel dan Palestina yang semakin memuncak dalam beberapa waktu belakangan, dan dengan pemerintah garis keras Netanyahu, ada potensi terjadinya insiden seperti di Deir Yassin akan terulang kembali.

Untuk itulah dunia internasional harus bertindak tegas untuk mencegah tindakan Zionis Israel yang semakin brutal dari hari ke hari.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement