UGANDA - Tepat 20 tahun lalu di Distrik Kanungu, Uganda Barat Daya terjadi pembantaian. Aksi itu menewaskan lebih dari 700 orang.
Judith Ariho tidak meneteskan air mata saat dia mengingat pembantaian gereja tersebut. Padahal, dalam insiden itu ada ibu, dua saudara kandung dan empat kerabatnya turut tewas.
Ariho menceritakan ulang detik-detik pembantaian tersebut. Ia mengatakan awalnya sejumlah orang dikunci di dalam sebuah gereja, dengan pintu dan jendela dipaku tertutup dari luar. Gereja itu kemudian dibakar.
BACA JUGA:
Kendati tak menetaskan air mata, Ariho mengatakan peristiwa itu masih menyisakan perih meski sudah dua dekade berlalu.
Mereka yang tewas adalah anggota Gerakan Pemulihan Sepuluh Perintah Allah - sekte yang percaya bahwa dunia akan berakhir pada pergantian milenium. Selang 20 tahun kemudian, tidak ada seorang pun yang dituntut atas pembantaian itu. Para pemimpin sekte tidak pernah ditemukan.
Anna Kabeireho, yang masih tinggal di lereng bukit yang menghadap ke tanah yang dimiliki oleh sekte itu, belum bisa melupakan bau yang menyelimuti lembah itu pada Jumat pagi.
"Semuanya tertutup asap, jelaga, dan bau daging yang terbakar. Baunya langsung terasa di paru-paru Anda. Semua orang berlari ke lembah. Api masih menyala. Ada lusinan mayat, terbakar tak bisa dikenali," ujarnya kepada BBC.
"Kami menutupi hidung kami dengan daun aromatik untuk menangkal bau. Selama beberapa bulan sesudahnya, kami tidak bisa makan daging," imbuhnya.
Kanungu adalah daerah subur dan damai di perbukitan hijau dan lembah yang dalam, tertutupi oleh pertanian kecil yang tergantikan oleh rumah-rumah. Perjalanan ke lembah, yang dulunya markas sekte itu, harus ditempuh dengan berjalan kaki.